ERA ISLAM : Hadirilah Kajian Rutin, Setiap Kamis Malam Jumat di Masjid Al Mujahidin Kembiritan Genteng Banyuwangi, Tema KISAH PARA SAHABAT oleh Ustadz EMHA HASAN AYATULLAH, MA. Kontak Kami : NAJIB (085236073452)

200 Su'aal Wa jawab Fil 'Aqiidatil Islamiyah

Oleh Ustadz M. Ayub, Lc. Hari Sabtu Malam Minggu (2 Minggu Sekali) Jam 17.300 - 19.30 WIB. Bertempat di Masjid Mujahidin Kembiritan Genteng Banyuwangi. Informasi ke 081334871628

Kajian Tafsir Al Qur'an (Tafsir Ibnu Katsier)

Oleh Ustadz Arif Bachtiar. Setiap Kamis Malam Jum'at Jam 17.30 - 19.30 WIB. Bertempat di Masjid Mujahidin Kembiritan Genteng Banyuwangi. Informasi ke 08123468129

Kajian Syarhus Sunnah (Imam Al Muzanni)

Oleh Tanzilul Furqon. Hari Rabu Malam Kamis (2 Minggu Sekali) Jam 17.300 - 19.30 WIB. Bertempat di Masjid Mujahidin Kembiritan Genteng Banyuwangi. Informasi ke 081334871628

Kajian Tafsir Al Qur'an (Tafsir As Sa'di)

Oleh Ustadz Hafidz, Lc. Setiap Ahad Jam 15.30 - 17.30 WIB. Bertempat di Masjid Imam As Syafi'i Kali Putih Genteng Banyuwangi. Informasi ke 081377775353

Kitab Adda' Waddawa' (Ibnu Qoyyim Al Jauzi)

Oleh Ustadz Muhson, Lc. Setiap Ahad Jam 15.30 - 17.30 WIB. Bertempat di Masjid Imam As Syafi'i Kali Putih Genteng Banyuwangi. Informasi ke 081377775353

Kajian Jami'ul 'Ulum Wal Hikam

Oleh Ustadz Ainur Rofiq, Lc. Setiap Ahad (2 Minggu Sekali) Jam 09.00 - 11.30 WIB. Bertempat di Masjid Ta'awun Kampung Arab Banyuwangi Kota. Informasi ke 085258163897

Selasa, 26 Juli 2016

Indahnya Surga dan Jalan untuk Menggapainya

Begitu indah dan menyenangkan surga Alloh Subhanahu wa Ta’ala pada jiwa-jiwa anak manusia yang diberi hati dan akal yang jernih pada jasadnya, karena didalamnya terdapat kenikmatan-kenikmatan yang tiada tara, luasnya tempat yang yang tidak bisa diukur oleh manusia, keindahan yang sangat menyilaukan dan mengagumkan hati manusia serta kelezatan – kelezatan yang tidak  dapat menandinginya segala kenikmatan dunia.
Kemudian diantara kenikmatan-kenikmatan surga Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang akan diberikan bagi penghuninya  adalah :
Yang Pertama : Dapat melihat Alloh, bagi orang-orang mu’min yang masuk ke dalam surganya.
Hal ini sebagaimana telah  disebutkan dalam kitab ‘Uluwul Himmah Fii Tholabil Jannah,” Sesungguhnya kenikmatan yang paling utama yang akan diperoleh  penghuni surga adalah dapat melihat Alloh”(1). Dan begitu juga dikatakan dalam kitab syarh Lum’atul I’tiqod “ orang orang mu’min melihat Robb mereka di akhirat dengan penglihatan mereka yang kemudian mereka menjumpai Alloh dan saling berdialog. Dan Alloh pun berfirman :
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ [22] إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ [23  
Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. ( Qs: Al - Qiyaamah : 22-23)
Rasulullah juga bersabda dalam haditsnya :
(إنكم ترون ربكم كما ترون هذا القمر لاتضمون فى رؤيته (حديث صحيح رواه البخاري والمسلم
Sesungguhnya kalian akan melihat Robb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini dimana kalian tidak akan terhalangi sedikitpun dalam melihat Alloh. (Hr. Bukhori Muslim ){2}.
Sungguh merupakan kenikmatan yang sangat besar ketika kita dapat melihat Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang maha kuasa yang dapat menciptakan segala alam semesta dengan berbagai bentuk dan rupa, senantiasa membagikan rizki pada semua mahluknya, mengatur alam semesta tanpa sedikitpun  meminta bantuan hambanya, yang merajai segala raja dan kerajaan yang ada didunia, dengan penuh keadilan dan jauh dari aneka bentuk kedholiman yang hina. Dan masih banyak lagi kesempunaan Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu kita hendaknya senantiasa merindukan-Nya agar bisa  berjumpa dan melihatnya, ditempat yang  kekal nan abadi kita didalamnya.
Yang kedua : Sungai-sungai dan mata air surga
Sungguh sangat menyenangkan dan menggembirakan jiwa ketika dapat menikmati sungai-sungai surga yang dihiasi dan dilengkapi dengan emas, batu-batu mutiara dan  air yang lebih  manis dari madu dunia.
Sesungguhnya termasuk sungai –sungai surga Alloh adalah Al-Kautsar, dan sungguh Alloh telah menyebutkanya dalam Al-Qur’an :
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ١
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.  ( Qs : al kaustar : 1).
Rasulullah pun telah bersabda :
(الكوثر نهر فى الجنة حافتاه من ذهب ومجراه من الدر واليقوت تربته أطيب ريحا من المسك ومائها أحلى من العسل وأشد بياضا من الثلج (رواه أحمد وابن ماجه وصححه الألبانى
Artinya : Al-Kaustar adalah sungai yang berada dalam surga yang dihimpit dengan emas, tempat aliran airnya dari batu mulia dan batu mutiara yang terharumi dengan wewangian yang lebih harum dari minyak kasturi, yang airnya lebih manis dari madu serta warnanya lebih putih dari salju”. (Hr. Ahmad dan Ibnu Majah dishohihkan Syaikh Al-Bani dalam Shohihul Jami’/4915).
Yang ketiga : Cantik nan jelita wanita surga.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman dalam dalam surat Ar-Rohman : 58
كَأَنَّهُنَّ الْيَاقُوتُ وَالْمَرْجَانُ ;٥٨
Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.
Dan Rasulullah saw bersabda dalam haditsnya :
(للرجل من أهل الجنة زوجتان من الحور العين على كل واحدة سبعون حلة يرى مخ ساقها من وراء الثياب( رواه أحمد والترميذى وصححه الألبانى
Bagi seorang laki-laki yang termasuk penduduk surga mempunyai dua istri dari bidadari surga, dimana setiap bidadari tersebut terlapisi dengan kain sampai  tujuh puluh lapisan akan tetapi senantiasa terlihat tulang sumsum betisnya dari balik hijab ( lapisan).(Hr. Imam Ahmad dan Tirmidzi yang dishohihkan Syaikh Albani dalam Shohihul Jami’/2564)
Wahai saudaraku, sabda rasulullah diatas menggambarkan begitu indah dan nikmatnya surga Alloh yang senantisa akan diberikan pada semua anak manusia yang senantiasa taat dan patuh kepada Robbnya dalam kehidupan dunia. Begitulah kecantikan wanita surga yang tidak akan pernah kita dapati wanita tersebut dalam kehidupan dunia. Bidadari surga akan senantiasa muda belia tidak akan pernah tua sebagaimana wanita-wanita dunia dimanapun keberadaan mereka. Bahkan umur mereka (bidadari-bidadari surga) adalah umur yang sangat ideal bagi kaum laki-laki yang menjadi penghuni surga Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini disebutkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala dalam firmanya :
إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا [٧٨:٣١]حَدَائِقَ وَأَعْنَابًا [٣٢]وَكَوَاعِبَ أَتْرَابًا [٣٣
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis remaja yang sebaya. ((QS. An-naba’ :31-33))
Dan telah dikatakan oleh Al-Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah dalam kitabnya Al-Khadiy Al-Arwah:” Adapun kata al kawa’ibu adalah bentuk jamaknya dari kata kaa’ib yang mana bermakna seorang wanita jelita yang berparas cantik. Dan telah berkata juga Al-Imam Qotadah, Mujahid, Kilabiy dan ahli tafsir lainya bahwa kawaa’ib adalah wanita jelita  yang montok buah dadanya”. (3). Begitulah gambaran umur bidadari surga Alloh yang akan diperuntukan bagi hamba-hambanya yang senantiasa setia kepada-Nya , sampai hari kiamat tiba.
Demikianlah sekelumit keindahan-keindahan surga , yang menjadikan jiwa-jiwa hamba yang jernih senantiasa meridukanya, semoga Alloh yang maha kuasa menjadikan kita termasuk penghuni surga, karena inilah hakekat puncak tujuan kita dalam kehidupan dunia yang fana,  dimana semua akan binasa ketika hari yang dijanjikan Alloh telah tiba. Kita sebagai manusia biasa, hanya bisa berusaha dan berdo’a agar Alloh berkenan menjadikan kita sebagai penghuni surga, yang kekal nan abadi keberadaanya. Kemudian bagaimanakah usaha kita dalam menggapai surga yang dipenuhi kenikmatan dan keindahan didalamnya? kita kembalikan semua usaha dan amalan kita dalam menggapainya, pada Al-Qur’an yang mulia serta sunnah nabi-Nya dengan pemahaman rasulullah yang diwarisi para shahabatnya dan para pengikutnya yang sentiasa meniti jejaknya sampai maut menjeputnya.
Sebagaiman telah dinukil dalam kitab ‘Uluwul Himmah Fii Tholabil Jannah, diantara amalan –amalan yang bisa menghantarkan kita menuju surga Alloh adalah:
Amalan yang pertama : : Tahqiqqu At-Tauhid (mewujudkan tauhid).
Sebagaimana tertera dalam hadits nabi saw:
(من مات لايشرك بالله شيئا دخل الجنة ومن مات يشرك بالله شيئا دخل النار (رواه البخاري والمسلم
Barang siapa yang meninggal sedangkan ia tidak menyekutukan Alloh maka ia masuk surga dan barangsiapa mati dalam keadaan menyekutukan Alloh maka ia masuk kedalam api neraka. (Hr.Bukhori Muslim)
Maka dalam kehidupan yang hanya sementara ini, hendaknya kita mengaplikasikan tauhid dan jangan sampai jiwa kita berlumuran syirik yang bisa melenyapkan segala amal kebaikan yang pernah kita lakukan. Dimana kesyirikan-kesyirikan yang kita lakukan akan senantiasa menghantarkan kedalam siksa api neraka.
Dan pada hakekatnya dengan mewujudkan tauhid kita akan mendapat keutamaan tauhid yang sangat agung yang tidak diberikan pada semua hamban-Nya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Minhaj Firqoh An-Naajiyah yang pada intinya : Bahwa keutamaan tauhid sebagaiman firman Alloh :
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ [٨٢
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.( QS : al-an’am : 82)
Maka ayat yang mulia menmberikan kabar gembira pada orang orang mukmin yang mentauhidkan Alloh yang tidak mencampur adukan iman mereka dengan kesyirikan dan senantiasa menjauhi kesyirikan. Sesungguhnya bagi mereka keutamaan didunia dan akherat :
  • Yang pertama : orang yang mewujudkan tauhid mendapat jaminan keamanan yang sempurna dari adzab Alloh di alam akhirat nantinya.
  • Yang kedua : Dan orang yang mewujudkan tauhid, mereka termasuk orang orang yang mendapat petunjuk Alloh didunia.
  • Yang ketiga : Bahwasanya tauhid dapat menghantarkan kebahagian dan menghapus dosa-dosa (hambanya selain dosa syirik).
Sebagaimana termaktub dalam hadits Qudsiy :
(يابن آدم لوأتيتني بقراب الأرض خطايا ثم لقيتنى لاتشرك بي شيئا لأتيتك بقرابها مغفرة (رواه الترميذى قال حسن
“wahai anak adam seandainya engkau mendatangiku dengan membawa dosa sebesar bumi kemudian engkau menjumpaiku dalam keadaan tidak berbuat syirik terhadap aku dengan sesuatupun maka sesungguhnya aku akan mendatangimu dengan membawa ampunan sebesar bumi pula. (Hr.Tirmidzi).(4)
Saudaraku sesungguhnya manusia yang melaksanakan tauhid adalah manusia yang beruntung didunia dan akherat karena mereka akan dimasukan ke surga dan mendapat keutamaan keutamaan yang tidak diberikan pada semua hamba-Nya.
Amalan yang ke dua : Hubbulloh wa rosuulihi (cinta kepada Alloh dan rosul-Nya).
Sesungguhnya cinta kepada Alloh dan rosulnya termasuk sebab yang sangat penting sebagai perantara masuknya seorang muslim kedalam surga Alloh. Dan tidaklah asing lagi bagi kita bahwa cinta kepada Alloh dan rosulnya termasuk ibadah yang paling agung yang dapat mendekatkan seorang muslim kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, akan tetapi hendaknya seorang muslim didalam cinta kepada Alloh harus benar-benar cinta yang sejati yang muncul dari jiwanya. Kemudian bagaimanakah cinta yang sejati kepada Alloh ?telah disebutkan dalam kitab Minhaj Al-Firqoh An-Najiyah : “ Sesungguhnya cinta kepada Alloh dapat direalisasikan dengan mengikuti apa yang telah dibawa nabi Muhammad saw, mentaati dengan apa yang telah diperintahkanya. Meninggalkan apa- apa yang telah dilarang oleh Rasulullah saw melalui hadits-haditsnya yang shohih yang telah diterangkan pada umat manusia. Dan tidaklah cinta kepada Alloh diwujudkan dengan banyak bicara dan tidak mengamalkan petunjuk ,perintah dan sunnah Rasulullah saw. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
(qs: ali-imron :31)
Adapun orang orang yang mengaku cinta kepada Alloh dan Rosul-Nya akan tetapi tidak pernah menerima,mengamalkan petunjuk nabi Saw maka cintanya hanya sebatas pada lisanya yang pada hakekatnya telah mendustai hatinya : alangkah indahnya perkataan seorang penyair :
seandainya cintamu itu sejati maka sungguh kamu akan taat padanya
sesunguhnya orang yang mengaku cinta pada orang yang dicintainya
maka ia akan wujudkan cintanya dengan ketaatan
Amalan yang ke tiga : Tilaawatul Qur’an wa hifdzihi (membaca Al-Qur’an, menhafalnya).
Sungguh telah banyak nash nash yang syar’i yang menunjukan bahwa membaca al-qur’an termasuk sebab yang dapat menghantarkan masuk kedalam surga alloh. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
(يقال لصاحب القرآن إذا دخل الجنة اقرأ واصعد فيقرأ ويصعد بكل آية درجة حتى يقرأ آخر شيئ معه(رواه أحمد وأبو داود وابن ماجه وصححه الألبانى
Maka dikatakan pada orang yang membaca Al-Qur’an ketika masuk surga , bacalah Al-Qur’an dan naiklah, maka ia membaca Al-Qur’an dan naik derajatnya dimana setiap membaca satu ayat maka akan naik satu derajatnya , sampai ia membaca yang paling akhir dari ayat tersebut.(Hr. Imam Ahmad ,Abu Dawud dan Ibnu Majah yang dishohihkan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Bani dalam Shohihul Jami’ hal : 8121)
Dan diantara keutamaan membaca Al-Qur’an yang lain adalah bahwa sebagai penolong pada hari kiamat, hal ini sebagaimana hadits Rasulullah Saw:
(اقروا القرآن فإنه يأتى يوم القيامة شفيعا لأصحابه ( رواه المسلم
Bacalah kalian Al-Qur’an maka sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai penolong bagi pembacanya. (Hr. Muslim )
Dan orang yang senantiasa membacanya, mempelajarinya dan mengajarnya adalah sebaik-baik manusia diantara kalian, hal ini sebagaimana hadits Rasulullah SAW:
(خيركم من تعلم القرآن وعلمه (رواه البخاري
Sebaik baik diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarnya. (Hr. Bukhori ) .
Semoga menjadikan kita termasuk hamba Alloh yang hatinya senantiasa dimudahkan untuk membaca al-quran, menghafalnya dan mentadaburinya. Bukan termasuk hamba Alloh yang jauh dan mendustakanya dari dasar pijakan yang pertama bagi umat islam yang bisa menghantarkan kebahagiaan yang hakiki dalam kehidupan dunia dan akherat.
Amalan yang ke empat : Tholabul’ilmi asy-syar’i   (mencari ilmu syar’i)
Sesungguhnya mencari ilmu agama yang berdasarkan Al-qur’an dan Hadits dengan pemahaman salafus sholih dengan benar-benar mengharap pahala dari Alloh adalah sebab diantara sebab yang dapat menghantarkan manusia masuk surga-Nya, yang juga menjadikan sang pencari ilmu syar’I diangkat derajatnya didunia dan diakherat  serta diberinya orang yang memahami dien ini kebaikan yang sangat banyak yang tidak diberikan pada semua umat manusia dimuka bumi ini.
Rasulullah telah bersabda dalam haditsnya :
(من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة ( رواه المسلم
Barang siapa yang berjalan disuatu jalan yang tujuanya mencari ilmu (syar’i) maka alloh akan memudahkan baginya jalan menuju surga. ( Hr.Muslim). Setiap langkah kita dalam mencari ilmu alloh Subhanahu wa Ta’ala, akan bernilai ibadah disisi Alloh Dzat yang maha kuasa.
Dan kalaulah kita perhatikan realita yang  ada, dalam kehidupan ini bahwa orang –orang yang berilmu akan diangkat oleh alloh beberapa derajat dalam kehidupan dunia terlebih lagi dalam kehidupan yang kekal abadi yakni kampung akherat. Hal ini sebagaimana firman alloh Subhanahu wa Ta’ala :
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ [١١
niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (Qs: Al-Mujadalah :11)
Kemudian Alloh telah berjanji melaui hadits nabi-Nya bahwa Alloh akan memberikan kebaikan yang banyak bagi orang yang memahami agama islam ini. Begitu juga sebaliknya Alloh tidak akan memberikan kebaikan yang banyak bagi hamba Alloh yang enggan untuk memahami agama islam yang mulia ini.
Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah saw :
(من يرد الله به خيرا يفقهه فى الدين (رواه البخاري والمسلم
Barangsiapa yang dikehendaki alloh kebaikan maka alloh akan memahamkan ia pada agama ini. (Hr. Bukhori Muslim ).
Saudaraku, sesungguhnya keutamaan ilmu itu lebih dicintai oleh rasulullah saw, daripada keutamaan ibadah. Orang –orang yang berilmu ketika beribadah dimana ia menyertai dalam ibadahnya akan diterima aleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala, akan tetapi orang –orang yang banyak beribadah kepada alloh  tanpa dasar ilmu maka amalanya akan tertolak dihadapan Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Fal’iyadzu billah.
Semoga alloh menjadikan kita termasuk penduduk surga yang memperoleh kenikmatan kenikmatanya yang tidak bisa dilihat oleh mata ,yang tidak bisa didengar oleh telinga , yang tidak terlintas dalam pikiran dan jiwa seorang hamba.
Begitu indah bila jiwa nan hati dapat melaksanakan amalan surga yang akan memberikan kebahagiaan yang hakiki dalam kehidupan akherat kelak, maka hanya kepada Alloh kita meminta agar dapat mengamalkan amalan-amalan surga dan menjadi penghuni surga-Nya.
Adapun amalan yang ke lima : At-Taubatu ilalloh Ta’aala (bertaubat kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala).
Maka sesungguhnya bertaubat kepada Alloh adalah sebab masuk surga karena sesungguhnya orang yang bertaubat dari dosa-dosanya maka Alloh akan menerima taubatnya, hal ini sebagaimana firman Alloh dalam Al-Qur’an :
إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا [١٩:٦٠
kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun,(QS : Maryam : 60)
Al-Imam ibnu katsir mengatakan dalam tafsirnya ayat diatas :  yaitu kecuali orang yang kembali/taubat dari meninggalkan sholat dan mengikuti hawa nafsunya. Sesunggunya Alloh akan menerima taubatnya dan memberikan akibat yang baik dan menjadikannya termasuk pewaris surga na’im. Oleh karena ini, firman Alloh diatas dapat terjadi, karena sesungguhya taubat kepada Alloh dapat menghapus dosa-dosa yang sebelumnya. Dan disebutkan dalam sebuah hadits : “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak mempunyai dosa baginya”.(5)
Semoga Alloh memudahkan kepada kita termasuk orang –orang yang bertaubat kepada-Nya dengan taubat nashuha dari beraneka macam dosa, baik dosa syirik, bid’ah dan kemaksiatan-kemaksiatan yang lainya.
Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin telah mengatakan dalam kitabnya syarh Riyadhus Sholihin : Bahwa taubat yang sebenarnya (nashuha) hendaknya terkumpul didalamnya 5 syarat  :
  • Syarat yang pertama : Hendaknya orang yang bertaubat itu mengikhlaskan niatnya karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala, kemudian tidaklah dalam taubatnya disertai agar supaya dilihat dan didengar oleh manusia.
  • Syarat yang kedua : Hendaknya orang yang bertaubat itu menyesali atas dosa dosa yang ia terjerumus didalamnya.
  • Syarat yang ketiga :Hendaknya orang yang bertaubat itu berhenti dari dosanya, maka tidak dinamakan orang yang bertaubat apabila ia melakukan dosa tersebut secara terus menerus.
  • Syarat yang keempat : Hendaknya orang yang bertaubat itu mempunyai kemauan yang kuat untuk tidak kembali melakukan dosa tersebut pada waktu yang akan datang , apabila ia telah bertaubat dan telah melepaskan dosanya akan tetapi terbetik dalam hatinya jikalau ada kesempatan ia akan melakukan dosa tersebut, maka yang demikian itu tidak diterima taubatnya, kemudian yang demikian ini merupakan bentuk taubat yang main-main. Maka dari itu dalam bertaubat haruslah disertai dengan kemauan yang kuat untuk meninggalkan dosanya. Dan  apabila ia sudah berkemauan yang kuat untuk meninggalkan dosanya akan tetapi suatu saat jiwanya menguasainya sehingga mendorong untuk melakukan maksiat tersebut, maka sesungguhnya yang demikian itu telah mengurangi kesempurnaan taubatnya yang pertama. Oleh karena itu ia butuh memperbaharui taubatnya yang kedua kalinya.
  • Syarat yang kelima : Hendaknya orang yang bertaubat itu, diwaktu taubatnya masih diterima Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yakni (sebelum datang sakaraotul maut dan terbitnya matahari dari barat-pen).
Wahai saudaraku, hendaknya kita bersegera bertaubat kepada Alloh dan kembali pada jalanya selama masih ada kesempatan, Alloh akan mengangkat derajat hamba-hamba-Nya yang bertaubat kepada-Nya dengan kedudukan yang lebih tinggi. Marilah kita menengok sejarah nabi Adam ‘alaihissalam, ketika bermaksiat kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala disurga disebabkan was –was syaithan yang terkutuk , sehingga Alloh  mengeluarkan nabi Adam dari surga-Nya, ketika nabi Adam telah bertaubat kepada Alloh maka ia mendapat kedudukan yang mulia. Dimana Alloh Subhanahu wa Ta’ala memilihnya sebagai hamba yang mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi dari sebelum ia bermaksiat kepada-Nya. Oleh karena ini, maka wajib atas  semua manusia bersegera bertaubat kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat nashuha , karena kita tidak mengetahui kapan datangnya suatu kematian , betapa banyak manusia pada zaman dahulu sampai sekarang ini, meninggalkan alam dunia yang fana ini secara tiba-tiba. Hanya kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala , kita meminta agar tetap istiqomah dalam meniti jala-Nya dan senantiasa bersegera bertaubat kepada-Nya ketika melakukan dosa-dosa kepada-Nya baik disengaja maupun tidak sengaja. Wallohu A’lam .
Maroji’:
  1. Kitab ‘Uluwwil Himmah fii Tholabil Jannah : 77
  2. Kitab Syarh Lum’atul I’tiqod : 86
  3. Kitab al-khadiy al arwah: 460
  4. Kitab Minhaj Firqoh An-Naajiyah : 33 – 34
  5. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adhim :3/174
  6. Kitab Riyaadhu Ash-Sholihin :3/156-157.
Penulis merupakan Mahasiswa Mediu Jur. Fiqih Wa Usul Fiqih, Muroja’ah : Al Ustadz Abu Ammar Muhammad Wujud

Bukti dan Tanda Cinta Rasul

Mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan semuanya mengaku ingin mencintainya, namun tidak semua pengakuan cinta dianggap benar dan tidak semua keinginan baik itu baik. Oleh karena itu diperlukan bukti dan tanda yang dapat dijadikan standar kebenaran pengakuan cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , sebab bila pengakuan tidak dibuktikan dengan bukti, maka tentulah banyak orang membuat kerusakan dan keonaran dengan pengakuan-pengakuan dusta, sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
لَوْ يُعْطَى النَّاسُ بِدَعْوَاهُمْ لَادَّعَى نَاسٌ دِمَاءَ رِجَالٍ وَأَمْوَالَهُمْ رواه البخاري و مسلم
Seandainya manusia diberikan semua pengakuannya tentulah banyak orang yang menuntut darah dan harta orang lain. HR  Al Bukhari, kitab Tafsier Al Qur’an no. 1487 dan Muslim kitab Al Aqdhiyah, Bab Al Yamien ‘Ala Al Muda’I no. 3228
Karena itu, wajib atas setiap muslim mengetahu bukti dan tanda kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengamalkan serta merealisasikannya dalam kehidupan sehari-harinya. Sebab bukti dan tanda-tanda tersebut menunjukkan kecintaannya yang hakiki sehingga semakin banyak memiliki bukti dan tanda tersebut maka semakin tinggi dan sempurna kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Diantara bukti dan tanda-tanda tersebut adalah:
1. Mencontoh dan menjalankan sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam .
Mencontoh, mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berjalan diatas manhaj beliau serta berpegang teguh dan mengikuti seluruh pernyataan dan perbuatan beliau adalah awal tanda cinta Rasul sehingga orang yang benar mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara lahiriyah dan batiniyah serta selalu menyesuaikan perkataan dan perbuatannya dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Anas bin Malik, beliau radhiyallahu ‘anhu berkata:
قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا بُنَيَّ إِنْ قَدَرْتَ أَنْ تُصْبِحَ وَتُمْسِيَ لَيْسَ فِي قَلْبِكَ غِشٌّ لِأَحَدٍ فَافْعَلْ ثُمَّ قَالَ لِي يَا بُنَيَّ وَذَلِكَ مِنْ سُنَّتِي وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: Wahai anakkku, jika kamu mampu pada pagi sampai sore hari tida ada dihatimu sifat berkhiyanat pada seorangpun maka perbuatlah. Kemudian beliau n berkata kepadaku lagi: Wahai anakku! Itu termasuk sunnahku dan siapa yang menghidupkan sunnahku maka ia telah mencintaiku dan siapa yang telah mencintaiku maka aku bersamanya disyurga. HR Al Tirmidzi, kitab Al Ilmu, Bab Ma jaa Fil Akhdzi bissunnah Wajtinaab Al Bida’ no. 2678
Orang yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang semangat berpegang teguh dan menghidupkan sunnah dan itu diwujudkan dengan mengamalkan sunnahnya, melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya dalam pernyataan dan perbuatan serta mendahulukan itu semua dari hawa nafsu dan kelezatannya sebagaimana firman Allah :
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Katakanlah:”Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. At-Taubah:24)
Menghidupkan sunnah dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam setiap langkah kehidupannya adalah bukti kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana juga menjadi bukti kecintaan kepada Allah. Allah berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah:”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran: 31)
Berdasarkan hal ini, kecintaan kepada Allah dan RasulNya menuntut konsekwensi mengamalkan hal-hal yang dicintai dan menjauhi yang dilarang dan dibenci dan tidak mungkin ada orang yang mencintai Rasulnya adalah orang yang tidak mau mengikuti sunnahnya atau bahkan melakukan kebid’ahan dengan sengaja.
2. Banyak ingat dan menyebutnya, karena orang yang mencintai sesuatu tentu akan memperbanyak ingat dan menyebutnya dan senantiasa ingat kepadanya merupakan sebab sinambungnya kecintaan dan pertumbuhannya.
3. Menyampaikan sholawat dan salam kepada beliau untuk mengamalkan firman Allah:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QSAl-Ahzaab:56)
Dan hadits Nabi yang berbunyi :
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَهَبَ ثُلُثَا اللَّيْلِ قَامَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا اللَّهَ اذْكُرُوا اللَّهَ جَاءَتْ الرَّاجِفَةُ تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ جَاءَ الْمَوْتُ بِمَا فِيهِ جَاءَ الْمَوْتُ بِمَا فِيهِ قَالَ أُبَيٌّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي فَقَالَ مَا شِئْتَ قَالَ قُلْتُ الرُّبُعَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ النِّصْفَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قَالَ قُلْتُ فَالثُّلُثَيْنِ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا قَالَ إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dulu bila berlalu dua pertiga malam, beliau bangun dan berkata: Wahai sekalian manusia berdzikirlah kepada Allah, berdzikirlah kepada Allah. Pasti datang tiupan sangkakala pertama yang diikuti dengan yang kedua, datang kematian dengan kengeriannya, datang kematian dengan kengeriannya. Ubai berkata: Aku berkata: Wahai Rasululloh aku memperbanyak sholawat untukmu, berapa banyak aku bersholawat untukmu? Beliau menjawab: Sesukamu. Lalu Ubai berkata lagi: aku berkata: seperempat. Beliau berkata: terserah, tapi kalau kamu tambah maka itu lebih baik. Aku berkata: setengah. Beliau menjawab lagi: terserah, tapi kalau kamu tambah maka lebih baik bagimu. Maka aku berkata lagi: kalau begitu dua pertiga. Beliau menjawab: Terserah, kalau kamu tambah maka lebih baik bagimu. Lalu akau berkata: Saya jadikan seluruh (do’aku) adalah sholawat untukmu. Maka Rasululloh menjawab: Kalau begitu (sholawat) itu mencukupkan keinginamu (dunia dan akherat) dan Allah akan mengampuni dosamu. HR Al Tirmidzi , kitab Sifat Al Qiyaamh no. 2457 dan Syeikh Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shohihah (no.954) menyatakan: Sanadnya hasan karena perbedaan ulama yang terkenal tentang Ibnu Uqail.
Ibnu Al Qayyim rahimahullah menyatakan: Syeikh kami Abul Abas Ibnu Taimiyah rahimahullah ditanya tentang tafsir hadits ini, beliau menjawab: Ubai waktu itu memiliki doa yang digunakan untuk dirinya sendiri, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: Apakah ia menjadikan seperempat do’anya untuk bersholawat untuk beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau n berkata lagi: jika kamu tambah maka itu lebih baik bagimu. Ia menjawab: separuhnya. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: jika kamu tambah maka itu lebih baik bagimu. Sampai kemudian menyatakan: aku jadikan doaku semuanya untuk sholawat untukmu. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: kalau begitu itu mencukupkan kamu dari semua keinginanmu dan Allah mengampuni dosamu. Hal ini karena orang yang bersholawat satu kali untuk Nabi n akan mendapatkan sholawat dari Allah sepuluh kali dan siapa yang mendapat sholawat Allah maka tentunya akan dapat mencukupi semua keinginannya dan diampuni dosanya, inilah pengertia ucapan beliau. (Lihat: Jala’ Al AFhaam fi Fadhli Al Sholat Wa Al Salam ‘Ala Khoiril Anam, Ibnul Qayyim, tahqiq Zaid bin Ahmad Al Nasyiri, cetakan pertama tahun 1425H Dar ‘Alam Al Fawaaid, hal 76.)
4. Menyebut keutamaan dan kekhususan serta sifat, akhlak dam prilaku utama yang Allah berikan kepada beliau, juga mu’jizat serta bukti kenabian untuk mengenal kedudukan dan martabat beliau n serta untuk mencontoh sifat dan akhlak beliau. Demikian juga untuk mengenalkan orang lain dan mengingatkan mereka tentang hal itu agar mereka semakin iman dan bertambah kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ibnul Qayyim rahimahullah ketika menyebutkan faedah yang didapat dari Sholawat untuk Nabi n menyatakan: Seorang ketika memperbanyak menyebut kekasihnya, mengingatnya dihati dan mengingat kebaikan-kebaikan dan factor-faktor yang menumbuhkan perasaan cinta kepadanya maka semakin berlipat ganda kecintaannya kepada kekasihnya tersebut dan bertambah rindu kepadanya serta menguasai seluruh hatinya. Apabila ia tidak sama sekali menyebutnya dan tidak mengingatnya dan mengingat kebaikan-kebaikan sang kekasih dihatinya maka akan berkurang rasa cinta dihatinya. Memang tidak ada yang dapat menyenangkannya lebih dari melihat kekasihnya tersebut dan tidak juga ada yang menyejukkan hatinya lebih dari menyebut dan mengingat sang kekasih dan kebaikan-kebaikannya. Apabila kuat hal ini dihatinya maka lisannya langsung akan memuji dan menyebut kebaikan-kebaikannya. Bertambah dan berkurangnya hal ini sesuai dengan bertambah dan berkurangnya rasa cinta dihatinya dan indera kita menjadi saksi kebenaran hal itu.
5. Bersikap sopan santun dan beradab dengan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam baik dalam menyebut nama atau memanggilnya, sebab Allah berfirman:
لا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain).Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS. AnNuur: 63)
Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan: Adab tertinggi terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah menerima penuh, tunduk patuh kepada perintahnya dan menerima beritanya dengan penuh penerimaan dan pembenaran tanpa ada penentangan dengan khayalan batil yang dinamakan ma’qul (masuk akal), syubhat, keraguan atau mendahulukan pendapat para intelektual dan kotoran pemikiran mereka, sehingga hany berhukum dan menerima, tunduk dan taat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.
6. Berharap melihat beliau dan rindu berjumpa dengannya walaupun harus membayarnya dengan harta dan keluarga. Tanda kecintaan ini dijelaskan langsung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau:
مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ
Diantara umatku yang paling mencintaiku adalah orang-orang yang hidup setelahku, salah seorang dari mereka sangat ingin melihatku walaupun menebus dengan keluarga dan harta. HR Muslim, kitab Al Jannah wa Shifat Na’imiha Wqa Ahliha, Bab Fiman Yawaddu Ru’yat Al Nabi Biahlihi wa malihi. No. 5060
Demikian juga dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ فِي يَدِهِ لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أَحَدِكُمْ يَوْمٌ وَلَا يَرَانِي ثُمَّ لَأَنْ يَرَانِي أَحَبُّ إِلَيْهِ مَنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ
Demi Dzat yang jiwa Muhammad ditanganNya (Allah), pasti akan datang pada salah seorang dari kalian satu waktu dan ia tidak melihatku, kemudian melihat aku lebih ia cintai dari keluarga dan hartanya. HR Muslim, kitab Al Fadhoil, bab Fadhlu Al Nadzor Ila Nabi n wa Tamanihi no. 4359.
7. Nasehat untuk Allah, kitabNya, RasulNya dan pemimpin kaum muslimin serta umumnya kaum muslimin.
8. Belajar Al Qur’an, sinambung membacanya dan memahami maknanya. Demikian juga belajar sunnahnya, mengajarkannya dan mencintai ahlinya (ahlu sunnah). Imam Al Qadhi Iyaad rahimahullah menyatakan: Diantara tanda-tanda mencintai rasululloh adalah mencintai Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dan beliau mengambil petunjuk dan menunjuki (manusia) dengannya serta berakhlak dengannya sehingga A’isyah menyatakan:
إِنَّ خُلُقُ نِبِيِّ الله كَانَ القُرْآن
Sesungguhnya Akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Al Qur’an. HR Muslim, kitab Sholat Al Musafirin, Bab Jaami’ sholat Al Lail no.1233
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Janganlah seseorang menanyakan untuk dirinya kecuali Al Qur’an, apabila ia mencintai Al Qur’an maka ia mencintai Allah dan RasulNya”. (lihat: Huquq Al Nabi 1/343)
9. Mencintai orang yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam cintai, diantaranya:
a. Ahli baitnya (kerabat)
Imam Al Baihaqi rahimahullah berkata: “Dan masuk dalam lingkupan kecintaan kepada beliau n adalah mencintai ahli bait”.(lihat: Syu’abil Iman, Al Baihaqi 1/282) Sedangkan Ibn Taimiyah rahimahullah menyatakan: “Diantara ushul ahlus Sunnah wal Jama’ah , mereka mencintai ahli bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberikan loyalitas pada mereka serta menjaga wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mereka.” (lihat: Majmu’ fatawa 3/407)
Kemudian beliau rahimahullah menyatakan: Ahlul bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki hak-hak yang wajib dipelihara, karena Allah menjadikan untuk mereka hak dalam Al Khumus, Al fei’ dan memerintahkan bersholawat untuk mereka bersama sholawat untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam . lalu mendefinisikan ahli bait dengan menyatakan: Ahli bait Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang diharamkan mengambil shodaqah, demikian pendapat imam Al Syaafi’I dan Ahmad bin Hambal serta yang lainnya dari para ulama.
b. Para istri beliau shallallahu ‘alaihi wasallam
Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menjaga keutamaan dan hak-hak mereka dan meyakini mereka tidak sama seperti para wanita lainnya, sebab Allah telah membedakannya dalam firmanNya:
يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ
Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, (QS. Al Ahzab: 32)
Dan menjadikannya sebagai ibu kaum mukminin dalam firmanNya:
وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ
Dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. (QS. Al Ahzaab: 6)
Demikian juga menjadikan pengharaman menikahi mereka setelah wafat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sampai hari kiamat dalam firmanNya:
وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا
Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah. (QS. Al Ahzaab: 53)
Sehingga wajib bagi kita menjaga hak-hak mereka setelah mereka wafat, bersholawat untuk mereka bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan memohonkan ampunan bagi mereka serta menjelaskan pujian dan keutamaan mereka.
c. Para sahabat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam .
Imam Al Baihaqi rahimahullah menyatakan: Masuk dalam kecintaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah cinta kepada para sahabat beliau, karena Allah telah memuji mereka dalam firmanNya:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al-Fath:29) dan firman Allah:
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). (QS. Al-Fath:18).
Kemudian beliau rahimahullah menyatakan: “Apabila mereka (para sahabat) telah mendapatkan kedudukan ini, maka mereka memiliki hak dari jamaah muslimin untuk mencintai mereka dan mendekatkan diri kepada Allah dengan kecintaan kepada mereka, karena Allah apabila meridhoi seorang maka Dia mencintainya dan wajib atas seorang hamba untuk mencintai orang yang Allah cintai.” (Lihat: Syu’abil Iman Al Baihaqi 1/287)
Umat islam wajib mencintai sahabat, meridhoi mereka dan mendo’akan kebaikan untuk mereka, sebagaimana Allah perintahkan dalam firmanNya:
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa:”Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang”. (QS. Al-Hashr:10)
Imam Al Baihaqi rahimahullah menyatakan: “Apabila telah jelas bahwa mencintai sahabat termasuk iman, maka mencintai mereka bermakna meyakini dan mengakui keutamaan-kutamaan mereka, mengetahui setiap mereka memiliki hak yang harus ditunaikan dan setiap yang perhatian kepada islam diperhatikan serta yang memiliki kedudukan khusus pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditempatkan pada kedudukannya dan menyebarkan kebaikan-kebaikan mereka serta mendoakan kebaikan untuk mereka dan mencontoh semua yang ada dalam permasalahan agama dari mereka. Tidak boleh mencari-cari kesalahan dan ketergelinciran mereka.” (lihat: Syu’abul Iman hal 297)
Sedangkan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab Al Aqidah Al Wasithiyah menyatakan: “Diantara ushul (pokok ajaran) Ahlu Sunnah Wal Jamaah adalah selamat hati dan lisan mereka dari mencela para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana disifatkan Allah dalam firmanNya:
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa:”Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang. (QS. Al-Hashr:10) dan mentaati Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَ الَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
Janganlah kalian mencela para sahabatku, demi Allah seandainya salah seorang kalian berinfaq emas sebesar gunung uhud, tidak akan menyamai satu mud mereka dan tidak pula separuhnya.
Mereka (ahlu sunnah) menerima keutamaan-keutamaan dan martabat-martabat mereka yang telah dijelaskan dalam Al Qur’an dan As Sunnah serta ijma. Mereka juga mendahulukan orang yang berinfaq dan berperang sebelum Al fathu –perjanjian Hudaibiyah- atas orang yang berinfaq dan berperang setelah itu dan mendahulukan para muhajirin atas anshor serta beriman bahwa Allah telah berfirman kepada orang yang ikut serta perang Badar dan jumlah mereka tigaratus sekian belas orang: (Berbuatlah sesuka hati kalian, karena kalian sungguh telah diampuni). (Juga beriman) bahwa tidak ada seorangpun yang berbaiat dibawah pohon (bai’at ridwan) yang masuk neraka, bahkan Allah telah meridhoi mereka dan mereka ridhi kepada Allah dan jumlah mereka lebih dari seribu empat ratus orang. Mereka (ahlu sunnah) bersaksi bahwa orang yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam persaksikan sebagai ahli syurga seperti sepuluh orang yang dijanjikan masuk syurga (Al ‘Asyarah), Tsabit bin Qais bin Syammas dan sahabat-sahabat lainnya dan beriman dengan pernyataan Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib dan yang lainnya yang telah dinukil secara mutawatir bahwa sebaik-baik umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakar kemudian Umar dan menetapkan yang ketiga adalah Utsman dan yang keempat adalah Ali sebagaimana disebutkan dalam atsar dan para sahabat bersepakat mendahulukan Utsman dalam Bai’at dengan adanya sebagian ahlu sunnah pernah berselisih tentang Utsman dan Ali setelah kesepakatan mereka mendahulukan Abu bakar dan Umar, siapakah dari keduanya yang lebih utama? Sebagian orang mencahulukan Utsman dan diam atau menetapkan keempat adalah Ali dan sebagian lainnya mendahulukan Ali serta sebagian yang lainnya diam tidak bersikap. Namun perkara kaum muslimin telah tetap mendahulukan Utsman kemudian Ali, walaupun maslah ini –yaitu masalah Utsman dan Ali- bukan termasuk pokok dasar (ushul) yang digunakan untuk menghukumi sesat orang yang menyelisihinya menurut mayoritas Ahlu Sunnah. Akan tetapi yang digunakan untuk memvonis sesat adalah masalah kekhilafahannya. Hal itu karena kholifah setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Abu bakar kemudian Umar kemudian Utsman kemudian Ali. Siapa yang mencela kekhilafahan salah seorang dari mereka ini maka ia lebih sesat dari keledai. (Lihat: Majmu’ Fatawa 3/152-153 atau Syarah Al Aqidah Al Wasithiyah Min Kalami Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, Kholid bin Abdullah Al Mushlih, cetakan pertama tahun 1421 H, Dar Ibnul Jauzi hal. 177-184).
9. Membenci orang yang Allah dan RasulNya benci, memusuhi orang yang memusuhi Allah dan rasulNya, menjauhi orang yang menyelelisihi sunnahnya dan berbuat kebid’ahan dalam agama dan merasa berat atas semua perkara yang menyelisihi syari’at. Allah berfirman:
لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka denga pertolongan yang datang daripada-Nya.Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya.Mereka itulah golongan Allah.Ketahuilah, bhwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung. (QS. Al-Mujaadilah: 22)
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Seorang mukmin wajib memusuhi karena Allah dan berloyalitas karena Allah. Apabila disana ada Mukmin maka wajib memberikan loyalotas kepadanya –walaupun ia berbuat dzolim- karena kedzoliman tidak memutus loyalitas iman, Allah berfirman:
وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الأخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya.Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali, kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah.Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (QS. Al-Hujuraat: 9-10)
Allah sebutkan persaudaraan walaupun terjadi peperangan dan perbuatan aniaya dan memerintahkan perdamaian diantara mereka. Sehingga diwajibkan memberikan loyalitas kepada mukmin walaupun ia mendzolimimu dan berbuat aniaya padamu sedangkan orang kafir wajib dimusuhi walaupun memberimu dan berbuat baik padamu. Hal ini karena Allah telah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab suci agar agama ini semua untukNya, sehingga cinta, pemuliaan dan pahala untuk para waliNya sedangkan kebencian, kehinaan dan siksaan untuk para musuhNya. Apabila berkumpul pada seseorang kebaikan, keburukan dan kefajiran, ketaatan dan kemaksiatan, sunnah dan bid’ah, maka berhak mendapatkan loyalitas dan pahala sesuai dengan kebaikan yang dimilikinya dan berhak mendapatkan permusuhan dan siksaan sesuai dengan keburukan yang dimilikinya. Sebab berkumpul pada satu orang tersebut factor yang menghasilkan pemuliaan dan penghinaan, lalu berkumpul ini dan itu, seperti maling (pencuri) yang fakir dipotong tangannya karena mencuri dan diberi dari baitulmal sesuatu yang mencukupi kebutuhannya. Ini adalah dasar pokok (asal) yang disepakati Ahlu Sunnah wal jama’ah. (Lihat: Majmu’ Fatawa 27/208-209).
Demikianlah sebagian tanda dan bukti penting kecintaan kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semoga Allah memudahkan kita untuk mendapatkan dan merealisasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Wabillahi taufiq.
(Sebagian besar materi makalah ini diambil dari kitab Huquq Al Nabi ‘Ala Umatihi Fi Dhu’il Kitab Was Sunnah, DR Muhammad Kholifah Al Tamimi, cetakan pertama tahun 1418 H, Penerbit Adwaa’ Al Salaf)
Penulis: Kholid Syamhudi Lc

Kesesatan Ahmadiyah

Apa Itu Ahmadiyah ?
Ahmadiyah adalah gerakan yang lahir pada tahun 1900M, yang dibentuk oleh pemerintah kolonial Inggris di India. Didirikan untuk menjauhkan kaum muslimin dari agama Islam dan dari kewajiban jihad dengan gambaran/bentuk khusus, sehingga tidak lagi melakukan perlawanan terhadap penjajahan dengan nama Islam. Gerakan ini dibangun oleh Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadiyani. Corong gerakan ini adalah “Majalah Al-Adyan” yang diterbitkan dengan bahasa Inggris.
Siapakah Mirza Ghulam Ahmad ?
Mirza Ghulam Ahmad hidup pada tahun 1839-1908M. Dia dilahirkan di desa Qadian, di wilayah Punjab, India tahun 1839M. Dia tumbuh dari keluarga yang terkenal suka khianat kepada agama dan negara. Begitulah dia tumbuh, mengabdi kepada penjajahan dan senantiasa mentaatinya. Ketika dia mengangkat dirinya menjadi nabi, kaum muslimin bergabung menyibukkan diri dengannya sehingga mengalihkan perhatian dari jihad melawan penjajahan Inggris. Oleh pengikutnya dia dikenal sebagai orang yang suka menghasut/berbohong, banyak penyakit, dan pecandu narkotik.
Pemerintah Inggris banyak berbuat baik kepada mereka. Sehingga dia dan pengikutnya pun memperlihatkan loyalitas kepada pemerintah Inggris.
Di antara yang melawan dakwah Mirza Ghulam Ahmad adalah Syaikh Abdul Wafa’, seorang pemimpin Jami’ah Ahlul Hadits di India. Beliau mendebat dan mematahkan hujjah Mirza Ghulam Ahmad, menyingkap keburukan yang disembunyikannya, kekufuran serta penyimpangan pengakuannya.
Ketika Mirza Ghulam Ahmad masih juga belum kembali kepada petunjuk kebenaran, Syaikh Abul Wafa’ mengajaknya ber-mubahalah (berdoa bersama), agar Allah mematikan siapa yang berdusta di antara mereka, dan yang benar tetap hidup. Tidak lama setelah bermubahalah, Mirza Ghulam Ahmad menemui ajalnya tahun 1908M.
Pada awalnya Mirza Ghulam Ahmad berdakwah sebagaimana para da’i Islam yang lain, sehingga berkumpul di sekelilingnya orang-orang yang mendukungnya. Selanjutnya dia mengklaim bahwa dirinya adalah seorang mujaddid(pembaharu). Pada tahap berikutnya dia mengklaim dirinya sebagai Mahdi Al-Muntazhar dan Masih Al-Maud. Lalu setelah itu mengaku sebagai nabi dan menyatakan bahwa kenabiannya lebih tinggi dan agung dari kenabian Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dia mati meninggalkan lebih dari 50 buku, buletin serta artikel hasil karyanya.
Di antara kitab terpenting yang dimilikinya berjudul Izalatul AuhamI’jaz AhmadiBarahin AhmadiyahAnwarul Islam,I’jazul MasihAt-Tabligh dan Tajliat Ilahiah.
Pemikiran dan Keyakinan Ahmadiyah
  1. Meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Al-Masih yang dijanjikan.
  2. Meyakini bahwa Allah berpuasa dan melaksanakan shalat, tidur dan mendengkur, menulis dan menyetempel, melakukan kesalahan dan berjimak. Mahatinggi Allah setinggi-tingginya dari apa yang mereka yakini.
  3. Keyakinan Ahmadiyah bahwa tuhan mereka adalah Inggris, karena dia berbicara dengannya menggunakan bahasa Inggris.
  4. Berkeyakinan bahwa Malaikat Jibril datang kepada Mirza Ghulam Ahmad, dan memberikan wahyu dengan diilhamkan sebagaimana Al-Qur’an.
  5. Menghilangkan aqidah/syariat jihad dan memerintahkan untuk mentaati pemerintah Inggris, karena menurut mereka pemerintah Inggris adalah waliyul amri (pemerintah Islam) sebagaimana tuntunan Al-Qur’an.
  6. Seluruh orang Islam menurut mereka kafir sampai mau bergabung dengan Ahmadiyah. Seperti bila ada laki-laki atau perempuan dari golongan Ahmadiyah yang menikah dengan selain pengikut Ahmadiyah, maka dia kafir.
  7. Membolehkan khamer, opium, ganja dan apa saja yang memabukkan.
  8. Mereka meyakini bahwa kenabian tidak ditutup dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi terus ada. Allah mengutus rasul sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Dan Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi yang paling utama dari para nabi yang lain.
  9. Mereka mengatakan bahwa tidak ada Al-Qur’an selain apa yang dibawa oleh Mirza Ghulam Ahmad. Dan tidak ada Al-Hadits selain apa yang disampaikan di dalam majelis Mirza Ghulam Ahmad. Serta tidak ada nabi melainkan berada di bawah pengaturan Mirza Ghulam Ahmad.
  10. Meyakini bahwa kitab suci mereka diturunkan (dari langit), bernama Al-Kitab Al-Mubin, bukan Al-Qur’an Al-Karim yang ada di tangan kaum muslimin.
  11. Mereka meyakini bahwa Al-Qadian (tempat awal gerakan ini) sama dengan Madinah Al-Munawarah dan Mekkah Al-Mukarramah ; bahkan lebih utama dari kedua tanah suci itu, dan suci tanahnya serta merupakan kiblat mereka dan kesanalah mereka berhaji.
  12. Mereka meyakini bahwa mereka adalah pemeluk agama baru yang indenpenden, dengan syarat yang indenpenden pula, seluruh teman-teman Mirza Ghulam Ahmad sama dengan sahabat Nabi MuhammadShallallahu ‘alaihi wa sallam.
Akar Pemikiran dan Keyakinan Ahmadiyah
  1. Bermula dari gerakan orientalis bawah tanah yang dilakukan oleh Sayyid Ahmad Khan yang menyebarkan pemikiran-pemikiran menyimpang ; yang secara tidak langsung telah membuka jalan bagi munculnya gerakan Ahmadiyah.
  2. Inggris menggunakan kesempatan ini dan membuat gerakan Ahmadiyah, dengan memilih untuk gerakan ini seorang lelaki pekerja dari keluaga bangsawan.
  3. Pada tahun 1953M, terjadilah gerakan sosial nasional di Pakistan menuntut diberhentikannya Zhafrillah Khan dari jabatannya sebagai menteri luar negeri. Gerakan itu dihadiri oleh sekitar 10 ribu umat muslim, termasuk pengikut kelompok Ahmadiyah, dan berhasil menurunkan Zhafrillah Khan dari jabatannya.
  4. Pada bulan Rabiul Awwal 1394H, bertepatan dengan bulan April 1974M dilakukan muktamar besar oleh Rabhithah Alam Islami di Mekkah Al-Mukarramah yang dihadiri oleh tokoh-tokoh lembaga-lembaga Islam seluruh dunia. Hasil muktamar memutuskan “Kufurnya kelompok ini dan keluar dari Islam. Meminta kepada kaum muslimin berhati-hati terhadap bahaya kelompok ini dan tidak bermu’amalah dengan pengikut Ahmadiyah, serta tidak menguburkan pengikut kelompok ini di pekuburan kaum Muslimin”.
  5. Majelis Rakyat (Parlemen) Pakistan melakukan debat dengan gembong kelompok Ahmadiyah bernama Nasir Ahmad. Debat ini berlangsung sampai mendekati 30 jam. Nasir Ahmad menyerah/tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, dan tersingkaplah kedok kufurnya kelompok ini. Maka majelis parlemen mengeluarkan keputusan bahwa kelompok ini lepas dari agama Islam.
Hal-Hal yang Mewajibkan Kafirnya Mirza Ghulam Ahmad
  1. Pengakuannya sebagai nabi.
  2. Menghapus kewajiban jihad dan mengabdi kepada penjajah.
  3. Meniadakan berhaji ke Mekkah dan menggantinya dengan berhaji ke Qadian.
  4. Penyerupaan yang dilakukannya terhadap Allah dengan manusia.
  5. Kepercayaannya terhadap keyakinan tanasukh (menitisnya ruh) dan hulul (bersatunya manusia dengan tuhan).
  6. Penisbatannya bahwa Allah memiliki anak, serta klaimnya bahwa dia adalah anak tuhan.
  7. Pengingkarannya terhadap ditutupnya kenabian oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan membuka pintu bagi siapa saja yang menginginkannya.
Penyebaran dan Aktifitas Ahmadiyah
  1. Penganut aliran Ahmadiyah kebanyakan hidup di India dan Pakistan dan sebagian kecilnya di Israel dan wilayah Arab. Mereka senantiasa membantu penjajah agar dapat membentuk/membangun sebuah markas di setiap negara di mana mereka berada.
  2. Ahmadiyah memiliki pekerjaan besar di Afrika dan pada sebagian negara-negara Barat. Di Afrika saja mereka beranggotakan kurang lebih 5000 mursyid dan da’i yang khusus merekrut manusia kepada kelompok Ahmadiyah. Dan aktifitas mereka secara luas memperjelas bantuan/dukungan mereka terhadap penjajahan.
  3. Keadaan kelompok Ahmadiyah yang sedemikian, ditambah perlakuan pemerintah Inggris yang memanjakan mereka, memudahkan para pengikut kelompok ini bekerja menjadi pegawai di berbagai instansi pemerintahan di berbagai negara, di perusahaan-perusahaan dan persekutuan-persekutuan dagang. Dari hasil kerja mereka itu dikumpulkanlah sejumlah dana untuk membiayai dinas rahasia yang mereka miliki
  4. Dalam menjalankan misi, mereka merekrut manusia kepada kelompok Ahmadiyah dengan segala cara, khsusnya media massa. Mereka adalah orang-orang yang berwawasan dan banyak memiliki orang pandai, insinyur dan dokter. Di Inggris terdapat stasiun pemancar TV dengan nama “TV Islami” yang dikelola oleh penganut kelompok Ahmadiyah.
Pemimpin-Pemimpin Ahmadiyah
  1. Pemimpin Ahmadiyah sepeninggal Mirza Ghulam Ahmad bernama Nuruddin. Pemerintah Inggris menyerahkan kepemimpinan Ahmadiyah kepadanya dan diikuti para pendukungnya. Di antara tulisannya berjudul “Fashlb Al-Khithab“.
  2. Pemimpin lainnya adalah Muhammad Ali dan Khaujah Kamaluddin. Amir Ahmadiyah di Lahore. Keduanya adalah corong dan ahli debat kelompok Ahmadiyah. Muhammad Ali telah menulis terjemah Al-Qur’an dengan perubahan transkripnya ke dalam bahasa Inggris. Tulisannya yang lain. Haqiqat Al-Ikhtilaf An-Nubuwah Fi Al-Islam dan Ad-Din Al-Islami. Khaujah Kamaluddin menulis kitab yang berjudul Matsal Al-A’la Fi Al-Anbiya serta kitab-kitab lain. Jamaah Ahmadiyah Lahore ini berpandangan bahwa Mirza Ghulam Ahmad hanyalah seorang mujadid. Tetapi yang berpandangan seperti ini dan yang tidak, mereka sama saja saling mengadopsi satu sama lain.
  3. Muhammad Shadiq, mufti kelompok Ahmadiyah. Di antara tulisannya berjudul Khatam An-Nabiyyin.
  4. Basyir Ahmad bin Ghulam, pemimpin pengganti kedua setelah Mirza Ghulam Ahmad. Di antara tulisannya berjudul Anwar Al-Khilafah, Tuhfat Al-MulukHaqiqat An-Nubuwwah.
  5. Dzhafrilah Khan, menteri luar negeri Pakistan. Dia memiliki andil besar dalam menolong kelompok sesat ini, dengan memberikan tempat luas di daerah Punjab sebagai markas besar Ahmadiyah sedunia, dengan namaRobwah Isti’aroh (tanah tinggi yang datar) yang diadopsi dari ayat Al-Qur’an: “Dan Kami melindungi mereka di suatu Robwah Isti’aroh (tanah tinggi yang datar) yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir.” (Qs. Al-Mukminun: 50)
Kesimpulan
Ahmadiyah adalah kelompok sesat yang tidak ada hubungannya dengan Islam. Aqidah (keyakinan) mereka berbeda dengan keyakinan agama Islam dalam segala hal. Kaum Muslimin perlu diperingatkan atas aktifitas mereka, setelah para ulama Islam memfatwakan bahwa kelompok ini kuffur.
Maraji’:
  1. Al-Mausu’ah Al-Muyassarah Fi Al-Adyan Wa Al-Madzahib Wa Al-Ahzab Al-mu’ashirah, oleh DR Mani’ Ibnu Hammad al-Jahani
  2. Tabshir Al-Adhan bi Ba’di Al-Madzahib wa Al-Adyan, oleh Muhammad As-Sabi’i
Sumber: Majalah Fatawa Vol. 06. Th. II 1425H/2004M.
Disusun dan dialihbahasakan oleh: Abu Asiah
Artikel dari almanhaj.or.id

Iman, Jalan Menuju Keselamatan

Pengertian Iman

Al-Bukhari rahimahullah (wafat tahun 256 H) mengatakan,
وَهُوَ قُوْلٌ وَفِعْلٌ وَيَزِيْدُ وَيَنْقُصُ
“Iman itu terdiri dari ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.” (lihat Sahih al-Bukhari, cet. Maktabah al-Iman hal. 14).

Abu Bakr al-Isma’ili rahimahullah (wafat tahun 371 H) mengatakan,
وَيَقُوْلُوْنَ إِنَّ الإِيْمَانَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَمَعْرِفَةٌ، يَزِيْدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ، مَنْ كَثُرَتْ طَاعَتُهُ أَزْيَدُ إِيْمَانًا مِمَّنْ هُوَ دُوْنَهُ فِي الطَّاعَةِ
“Mereka -para imam ahli hadits- mengatakan bahwa iman itu terdiri dari ucapan dan perbuatan dan pengetahuan. Ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang akibat kemaksiatan. Barangsiapa yang banyak ketaatannya maka lebih bertambah imannya daripada orang yang ketaatannya berada di bawahnya.” (I’tiqad A’immat al-Hadits, hal. 15 as-Syamilah).
Ibnu Abi Zaid al-Qairawani rahimahullah (wafat tahun 386 H) mengatakan,
وأنَّ الإيمانَ قَولٌ باللِّسانِ، وإخلاَصٌ بالقلب، وعَمَلٌ بالجوارِح، يَزيد بزيادَة الأعمالِ، ويَنقُصُ بنَقْصِها، فيكون فيها النَّقصُ وبها الزِّيادَة، ولا يَكْمُلُ قَولُ الإيمانِ إلاَّ بالعمل، ولا قَولٌ وعَمَلٌ إلاَّ بنِيَّة، ولا قولٌ وعَمَلٌ وَنِيَّةٌ إلاَّ بمُوَافَقَة السُّنَّة.
“Iman adalah ucapan dengan lisan, keikhlasan dengan hati, dan amal dengan anggota badan. Ia bertambah dengan bertambahnya amalan dan berkurang dengan berkurangnya amalan. Sehingga amal-amal bisa mengalami pengurangan dan ia juga merupakan penyebab pertambahan -iman-. Tidak sempurna ucapan iman apabila tidak disertai dengan amal. Ucapan dan amal juga tidak sempurna apabila tidak dilandasi oleh niat -yang benar-. Sementara ucapan, amal, dan niat pun tidak sempurna kecuali apabila sesuai dengan as-Sunnah/tuntunan.” (Qathfu al-Jani ad-Dani karya Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, hal. 47)
Abdul Ghani al-Maqdisi rahimahullah (wafat tahun 600 H) mengatakan,
والإِيْمَانُ بِأَنَّ الإِيْمَانَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَنِيَّةٌ ، يَزِيْدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ
“Dan mengimani bahwasanya iman itu mencakup ucapan, perbuatan, dan keinginan. Ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan sebab kemaksiatan.” (Tadzkirat al-Mu’tasi karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad, hal. 293).
Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah (wafat tahun 620 H) mengatakan,
وَالْإِيمَانُ قَوْلٌ بِاللِّسَانِ, وَعَمَلٌ بِالْأَرْكَانِ وَعَقْدٌ بِالْجَنَانِ, يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ, وَيَنْقُصُ بِالْعِصْيَانِ
“Iman adalah ucapan dengan lisan, amal dengan anggota badan, keyakinan dengan hati. Ia dapat bertambah dengan sebab ketaatan, dan berkurang dengan sebab kemaksiatan.” (Lum’at al-I’tiqad al-Hadi ila Sabil ar-Rasyad, lihat Syarah Syaikh Ibnu Utsaimin hal. 98)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (wafat tahun 728 H) mengatakan,
وَقَدْ حَكَى غَيْرُ وَاحِدٍ إجْمَاعَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْحَدِيثِ عَلَى أَنَّ الْإِيمَانَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ . قَالَ أَبُو عُمَرَ بْنُ عَبْدِ الْبَرِّ فِي ” التَّمْهِيدِ ” : أَجْمَعَ أَهْلُ الْفِقْهِ وَالْحَدِيثِ عَلَى أَنَّ الْإِيمَانَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَلَا عَمَلَ إلَّا بِنِيَّةِ وَالْإِيمَانُ عِنْدَهُمْ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ وَالطَّاعَاتُ كُلُّهَا عِنْدَهُمْ إيمَانٌ إلَّا مَا ذُكِرَ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ وَأَصْحَابِهِ فَإِنَّهُمْ ذَهَبُوا إلَى أَنَّ الطَّاعَةَ لَا تُسَمَّى إيمَانًا قَالُوا إنَّمَا الْإِيمَانُ التَّصْدِيقُ وَالْإِقْرَارُ وَمِنْهُمْ مَنْ زَادَ الْمَعْرِفَةَ وَذَكَرَ مَا احْتَجُّوا بِهِ . . . إلَى أَنْ قَالَ : وَأَمَّا سَائِرُ الْفُقَهَاءِ مِنْ أَهْلِ الرَّأْيِ وَالْآثَارِ بِالْحِجَازِ وَالْعِرَاقِ وَالشَّامِ وَمِصْرَ مِنْهُمْ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ وَاللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ والأوزاعي وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَد بْنُ حَنْبَلٍ وَإِسْحَاقُ بْنُ راهويه وَأَبُو عُبَيْدٍ الْقَاسِمُ بْنُ سَلَامٍ وداود ابْنُ عَلِيٍّ والطبري وَمَنْ سَلَكَ سَبِيلَهُمْ ؛ فَقَالُوا : الْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ قَوْلٌ بِاللِّسَانِ وَهُوَ الْإِقْرَارُ وَاعْتِقَادٌ بِالْقَلْبِ وَعَمَلٌ بِالْجَوَارِحِ مَعَ الْإِخْلَاصِ بِالنِّيَّةِ الصَّادِقَةِ . قَالُوا : وَكُلُّ مَا يُطَاعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ مِنْ فَرِيضَةٍ وَنَافِلَةٍ فَهُوَ مِنْ الْإِيمَانِ وَالْإِيمَانُ يَزِيدُ بِالطَّاعَاتِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعَاصِي وَأَهْلُ الذُّنُوبِ عِنْدَهُمْ مُؤْمِنُونَ غَيْرُ مُسْتَكْمِلِي الْإِيمَانِ مِنْ أَجْلِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّمَا صَارُوا نَاقِصِي الْإِيمَانِ بِارْتِكَابِهِمْ الْكَبَائِرَ
“Tidak hanya satu ulama yang menukilkan ijma’ Ahlus Sunnah dan Ahli Hadits yang menegaskan bahwa iman itu mencakup ucapan dan amal perbuatan. Abu Umar yaitu Ibnu Abdil Barr mengatakan di dalam at-Tam-hid : para fuqaha’/ahli agama dan ahli hadits sepakat bahwa iman itu meliputi ucapan dan perbuatan, dan tidak ada amal tanpa niat. Iman itu menurut mereka bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang akibat melakukan kemaksiatan. Segala macam ketaatan dalam pandangan mereka adalah -bagian dari- iman, kecuali pendapat yang disebutkan dari Abu Hanifah dan para pengikutnya yang mengatakan bahwa ketaatan tidak disebut iman. Mereka mengatakan bahwa iman itu hanya terbatas pada tashdiq/pembenaran hati dan ikrar/pengakuan lisan saja. Ada pula di antara mereka yang menambahkan unsur ma’rifah. Kemudian dia menyebutkan dalil-dalil yang mereka gunakan… sampai akhirnya dia mengatakan : Adapun segenap fuqaha’/ahli agama dari kalangan ahli ra’yi dan para pakar hadits di negeri Hijaz, Iraq, Syam, dan Mesir, di antara mereka terdapat Malik bin Anas, al-Laits bin Sa’ad, Sufyan ats-Tsauri, al-Auza’i, as-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuyah, Abu Ubaid al-Qasim bin Salam, Dawud bin Ali, at-Thabari serta para ulama yang meniti jalan mereka, bahwa mereka semua mengatakan iman itu mencakup ucapan dan perbuatan -ucapan lisan yaitu dengan ikrar-, keyakinan di dalam hati, dan amal dengan anggota badan yang disertai dengan niat yang tulus dan ikhlas. Mereka mengatakan : Segala sesuatu yang boleh dijadikan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla baik yang hukumnya wajib ataupun sunah maka itu adalah bagian dari iman. Iman bertambah karena ketaatan dan berkurang akibat kemaksiatan. Sedangkan menurut mereka, para pelaku dosa besar adalah orang-orang yang beriman yang imannya tidak lengkap akibat dosa yang mereka perbuat. Mereka menjadi orang-orang yang berkurang imannya gara-gara dosa-dosa besar yang mereka lakukan…” (Majmu’ al-Fatawa [2/127] as-Syamilah)
Dalil-dalil yang mendasari pengertian di atas, antara lain :
Firman Allah ta’ala,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang yang ketika disebutkan -nama- Allah maka takutlah hati mereka, dan ketika dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan (mereka). Dan mereka bertawakal hanya kepada Rabb mereka. Orang-orang yang mendirikan sholat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang mukmin yang sesungguhnya…” (QS. al-Anfal [8]: 2-4).
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
اَلْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً, أَعْلَاهَا شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ, وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اَلْأَذَى عَنْ اَلطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ
“Iman terdiri dari tujuh puluh cabang lebih. Yang tertinggi adalah syahadat la ilaha illallah. Yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu merupakan salah satu cabang keimanan.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, diriwayatkan pula oleh Bukhari namun dengan lafaz ‘enam puluh cabang lebih’ dan tanpa ada ungkapan ‘yang tertinggi adalah syahadat la ilaha illallah’, lihat Sahih al-Bukhari cet. Maktabah al-Iman, hal. 15).
Amalan termasuk iman
al-Bukhari rahimahullah membuat bab di dalam Sahihnya dengan judul ‘Cinta Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk bagian dari iman’ kemudian beliau membawakan hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai aku lebih dicintainya daripada orang tua dan anak-anaknya.” (HR. Bukhari)
Beliau juga membawakan hadits Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai aku lebih dicintainya daripada orang tua, anak-anaknya, dan seluruh umat manusia.” (HR. Bukhari)
al-Bukhari rahimahullah juga membuat bab di dalam Sahihnya dengan judul ‘Mencintai kaum Anshar merupakan salah satu tanda keimanan’ kemudian beliau membawakan hadits Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
آيَةُ الْإِيمَانِ حُبُّ الْأَنْصَارِ وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ
“Ciri keimanan yaitu mencintai kaum Anshar, sedangkan ciri kemunafikan yaitu membenci kaum Anshar.” (HR. Bukhari)
al-Bukhari rahimahullah juga membuat bab di dalam Sahihnya dengan judul ‘Rasa malu bagian dari iman’ kemudian beliau membawakan hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati seseorang dari kaum Anshar yang sedang menasihati saudaranya dalam masalah malu -yang ada padanya-, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Biarkan dia, sesungguhnya rasa malu adalah bagian dari iman.’.” (HR. Bukhari)
Allah ta’ala berfirman,
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ
“Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian.” (QS. al-Baqarah [2]: 143).
al-Bukhari rahimahullah menafsirkan kata ‘iman kalian’ di dalam ayat di atas dengan sholat kalian di sisi Ka’bah -dengan menghadap ke Baitul Maqdis- (lihat Sahih al-Bukhari, hal. 21. Tafsiran serupa juga dikemukakan oleh Ibnu Katsir, lihat tafsir al-Qur’an al-’Azhim [1/249]).
al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu’anhu meriwayatkan,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أَوَّلَ مَا قَدِمَ الْمَدِينَةَ نَزَلَ عَلَى أَجْدَادِهِ أَوْ قَالَ أَخْوَالِهِ مِنْ الْأَنْصَارِ وَأَنَّهُ صَلَّى قِبَلَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ شَهْرًا أَوْ سَبْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا وَكَانَ يُعْجِبُهُ أَنْ تَكُونَ قِبْلَتُهُ قِبَلَ الْبَيْتِ وَأَنَّهُ صَلَّى أَوَّلَ صَلَاةٍ صَلَّاهَا صَلَاةَ الْعَصْرِ وَصَلَّى مَعَهُ قَوْمٌ فَخَرَجَ رَجُلٌ مِمَّنْ صَلَّى مَعَهُ فَمَرَّ عَلَى أَهْلِ مَسْجِدٍ وَهُمْ رَاكِعُونَ فَقَالَ أَشْهَدُ بِاللَّهِ لَقَدْ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِبَلَ مَكَّةَ فَدَارُوا كَمَا هُمْ قِبَلَ الْبَيْتِ وَكَانَتْ الْيَهُودُ قَدْ أَعْجَبَهُمْ إِذْ كَانَ يُصَلِّي قِبَلَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ وَأَهْلُ الْكِتَابِ فَلَمَّا وَلَّى وَجْهَهُ قِبَلَ الْبَيْتِ أَنْكَرُوا ذَلِكَ قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ عَنْ الْبَرَاءِ فِي حَدِيثِهِ هَذَا أَنَّهُ مَاتَ عَلَى الْقِبْلَةِ قَبْلَ أَنْ تُحَوَّلَ رِجَالٌ وَقُتِلُوا فَلَمْ نَدْرِ مَا نَقُولُ فِيهِمْ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى { وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ }
“Dahulu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pertama kali tiba di Madinah, beliau singgah di rumah kakek-kakeknya” atau dia berkata “di rumah paman-pamannya” -perawi ragu- dari kalangan Anshar. Pada awalnya beliau sholat menghadap ke arah Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan, dan ketika itu beliau sangat ingin apabila kiblatnya dipindah ke arah Ka’bah. Sholat pertama kali yang beliau lakukan ke arah kiblat yang baru adalah sholat ‘Ashar dengan disertai sekelompok orang bersamanya. Kemudian, ada salah seorang di antara jama’ah yang sholat bersamanya keluar lalu melewati jama’ah lain yang sedang mengerjakan sholat di suatu masjid, ketika itu mereka dalam posisi ruku’, maka dia mengatakan, ‘Aku bersumpah atas nama Allah, sungguh aku telah sholat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap ke Mekah.’ Maka mereka pun berputar arah dengan posisi sebagaimana ketika menghadap Baitul Maqdis. Orang-orang Yahudi heran terhadap hal itu, sebab sebelumnya beliau [Nabi] sholat menghadap Baitul Maqdis sama sebagaimana kaum Ahli Kitab. Ketika beliau sudah mengalihkan wajahnya [ketika sholat] untuk menghadap ke Ka’bah maka mereka pun mengingkarinya.” Zuhair -salah seorang perawi- mengatakan, “Abu Ishaq menuturkan kepada kami dari al-Bara’ di dalam haditsnya ini bahwasanya dahulu ada beberapa orang yang telah meninggal dan terbunuh ketika sholat masih menghadap ke kiblat -Baitul Maqdis- sebelum diubah arahnya, maka kami pun tidak tahu apa yang harus kami ucapkan tentang mereka itu, karena itulah Allah ta’ala menurunkan ayat (yang artinya), ‘Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian.’.” (HR. Bukhari).
al-Qurthubi rahimahullah (wafat tahun 671 H) mengatakan, “Para ulama sepakat bahwasanya ayat ini -QS. al-Baqarah: 143- turun mengenai orang yang telah meninggal dalam keadaan sholat masih menghadap ke Baitul Maqdis sebagaimana ditunjukkan oleh hadits yang tertera di dalam Sahih al-Bukhari dari penuturan al-Bara’ bin Azib yang baru saja berlalu.” (Tafsir al-Qurthubi [2/157] as-Syamilah)
Oleh sebab itu, mengeluarkan amal anggota badan dari pengertian iman merupakan pemahaman Murji’ah yang sesat. Para ulama mengatakan, “Bukan termasuk pendapat Ahlus Sunah pendapat yang mengatakan bahwa iman adalah sekedar pembenaran hati! Atau pembenaran hati dan diiringi dengan ucapan lisan -saja- tanpa disertai amal anggota badan! Barangsiapa yang berpendapat semacam itu maka dia adalah orang yang sesat, dan ini merupakan -keyakinan- mazhab Murji’ah yang sangat buruk itu!” (Mujmal Masa’il al-Iman al-Ilmiyah, disusun oleh Husain al-Awaisyah, Muhammad bin Musa Alu Nashr, Salim al-Hilali, Ali al-Halabi, dan Masyhur Hasan Salman, hal. 14).
Iman bisa bertambah dan berkurang
Abu Dawud rahimahullah (wafat tahun 275 H) membuat bab di dalam Sunannya dengan judul ‘Dalil yang menunjukkan bahwa iman mengalami penambahan dan pengurangan’, di antara dalil yang beliau bawakan adalah hadits Abu Umamah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدْ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ
“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan juga karena Allah, maka sungguh dia telah menyempurnakan keimanan (pada dirinya).” (HR. Abu Dawud, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [380] as-Syamilah).
Ibnu Batthah rahimahullah (wafat tahun 387 H) menyebutkan riwayat dari Umair bin Habib radhiyallahu’anhu, dia mengatakan,
« الإِيمَانُ يَزِيْدُ وَيَنْقُصُ » قِيْلَ : وَمَا زِيَادَتُهُ وَنُقْصَانُهُ ؟ قَالَ : « إِذَا ذَكَرْنَا اللهَ فَحَمِدْناَهُ وَسَبَّحْنَاهُ فَتِلْكَ زِيَادَتُهُ ، وَإِذَا غَفَلْنَا وَنَسِيْنَا فَذَلِكَ نُقْصَانُهُ »
“Iman itu bertambah dan berkurang.” Ada yang bertanya, “Apakah maksud pertambahan dan pengurangannya?”. Beliau menjawab, “Apabila kita mengingat Allah kemudian kita memuji dan menyucikan-Nya maka itulah pertambahannya. Dan apabila kita lalai dan melupakan-Nya maka itulah pengurangannya.” (al-Ibanah al-Kubra [3/153], lihat juga Fath al-Bari Ibnu Rojab [1/5] as-Syamilah).
Maka pendapat yang menyatakan bahwa perbedaan antara Hanafiyah dengan mayoritas ulama salaf lainnya -semoga Allah merahmati mereka semua- dalam mendefinisikan iman adalah semata-mata perbedaan yang semu -sebagaimana yang dikatakan oleh salah satu penulis Syarah Aqidah Thahawiyah, semoga Allah mengampuninya- merupakan pendapat yang keliru. Sebab mereka -Hanafiyah- telah mengeluarkan amal dari hakikat iman, sehingga hal itu menyebabkan mereka menyelisihi ulama salaf dalam hal keyakinan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang. Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan, “Kemudian, bagaimana bisa dibenarkan kalau perselisihan tersebut adalah sesuatu yang semu sementara mereka (Hanafiyah) membolehkan orang paling bejat di antara mereka untuk berkata, ‘Imanku sama seperti iman Abu Bakar as-Shiddiq! Bahkan sama dengan iman para nabi dan rasul, Jibril dan Mika’il ‘alaihimus sholatu was salam’! Bagaimana mungkin, sementara dengan landasan mazhab mereka itu mereka tidak memperbolehkan bagi salah seorang dari mereka -betapa pun berat kefasikan dan dosanya- untuk berkata, ‘Saya adalah mukmin, insya Allah ta’ala’. Bahkan -menurut mereka- dia harus mengatakan, ‘Saya adalah mukmin sejati’! Padahal Allah ‘azza wa jala berfirman (yang artinya) “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang yang ketika disebutkan -nama- Allah maka takutlah hati mereka, dan ketika dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan (mereka). Dan mereka bertawakal hanya kepada Rabb mereka. Orang-orang yang mendirikan sholat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang mukmin yang sesungguhnya…” (QS. al-Anfal [8]: 2-4)….” (al’Aqidah at-Thahawiyah, Syarh wa Ta’liq, hal. 43-44).
Adapun pernyataan bahwa ‘Pokok keimanan berada di dalam hati dan amal lahiriyah merupakan cabang dan konsekuensi darinya’ sama sekali bukan termasuk keyakinan Murji’ah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “..pokok keimanan itu tertanam di dalam hati yaitu ucapan dan perbuatan hati. Ia mencakup pengakuan yang disertai pembenaran dan rasa cinta dan ketundukan. Sedangkan apa yang ada di dalam hati pastilah akan tampak konsekuensinya dalam perbuatan anggota-anggota badan. Apabila seseorang tidak melakukan konsekuensinya maka itu menunjukkan bahwa iman itu tidak ada atau lemah [padanya]. Oleh karena itu maka amal-amal lahir itu merupakan konsekuensi dari keimanan di dalam hati. Ia merupakan pembuktian atas apa yang ada di dalam hati, tanda dan saksi baginya. Ia merupakan cabang dari totalitas keimanan dan bagian dari kesatuannya. Walaupun demikian, apa yang ada di dalam hati itulah yang menjadi pokok/sumber bagi apa-apa yang muncul pada anggota-anggota badan…” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah [2/175] as-Syamilah, lihat juga Mujmal Masa’il al-Iman al-’Ilmiyah, hal. 15).
Allah ta’ala berfirman,
قَالَتِ الْأَعْرَابُ آَمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُم
“Orang-orang Arab badui itu mengatakan, ‘Kami telah beriman’. Katakanlah, ‘Kalian belum beriman, akan tetapi katakanlah ‘Kami telah berislam’. Karena iman itu belum meresap ke dalam hati kalian.” (QS. al-Hujurat [49]: 14).
az-Zajaj rahimahullah (wafat tahun 311 H) mengatakan,
الإِسْلاَمُ : إِظْهَارُ الخُضُوعِ وَالقَبُولِ لِمَا أَتَى بِهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَبِذَلِكَ يُحْقَنُ الدَّمُ . فَإِنْ كَانَ مَعَهُ اِعْتِقَادٌ وَتَصْدِيْقٌ بِالْقَلْبِ ، فَذلِكَ الإِيْمَانُ
“Yang dimaksud dengan Islam -dalam konteks ayat ini- adalah menampakkan ketundukan dan penerimaan terhadap ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan sebab itulah maka darah (nyawa) menjadi terjaga. Apabila bersama dengan itu diikuti dengan keyakinan dan pembenaran hati maka itulah iman.” (Zaad al-Maasir [5/406] as-Syamilah).
al-Baghawi rahimahullah (wafat tahun 516 H) mengatakan,
فَأَخْبَرَ أَنَّ حَقِيْقَةَ الإِيْمَانِ التَّصْدِيْقُ بِالْقَلْبِ، وَأَنَّ الإِقْرَارَ بِاللِّسَانِ وَإِظْهَارَ شَرَائِعِهِ بِالأَبْدَانِ لاَ يَكُوْنُ إِيمَانًا دُونَ التَّصْدِيْقِ بِالْقَلْبِ وَالإِخْلاَصِ
“Allah memberitakan bahwa hakikat keimanan adalah pembenaran dengan hati dan sesungguhnya pengakuan dengan lisan serta sikap menampakkan syari’at-syari’at lahiriyah bukanlah keimanan apabila tidak diiringi dengan pembenaran hati dan keikhlasan.” (Ma’alim at-Tanzil [7/350] as-Syamilah).
al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari Amir bin Sa’ad dari ayahnya yaitu Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu’anhu,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطَى رَهْطًا وَسَعْدٌ جَالِسٌ فَتَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا هُوَ أَعْجَبُهُمْ إِلَيَّ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَكَ عَنْ فُلَانٍ فَوَاللَّهِ إِنِّي لَأَرَاهُ مُؤْمِنًا فَقَالَ أَوْ مُسْلِمًا فَسَكَتُّ قَلِيلًا ثُمَّ غَلَبَنِي مَا أَعْلَمُ مِنْهُ فَعُدْتُ لِمَقَالَتِي فَقُلْتُ مَا لَكَ عَنْ فُلَانٍ فَوَاللَّهِ إِنِّي لَأَرَاهُ مُؤْمِنًا فَقَالَ أَوْ مُسْلِمًا ثُمَّ غَلَبَنِي مَا أَعْلَمُ مِنْهُ فَعُدْتُ لِمَقَالَتِي وَعَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا سَعْدُ إِنِّي لَأُعْطِي الرَّجُلَ وَغَيْرُهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْهُ خَشْيَةَ أَنْ يَكُبَّهُ اللَّهُ فِي النَّارِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu ketika memberikan kepada sekelompok orang dan ketika itu Sa’ad sedang duduk. Ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan (tidak memberi) kepada salah seorang lelaki yang paling aku (Sa’ad) kagumi, maka aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, ada apa dengan si fulan? Demi Allah, aku tidak melihatnya melainkan seorang mukmin.’ Maka beliau menjawab, ‘Atau barangkali muslim?’. Lalu aku pun terdiam sejenak namun apa yang aku ketahui tentangnya lebih menguasai pikiranku, maka aku ulangi lagi ucapanku tadi, ‘Ada apa dengan si fulan? Demi Allah aku benar-benar memandangnya seorang mukmin.’ Maka beliau menjawab, ‘Atau barangkali muslim?’. Kemudian apa yang aku ketahui tentangnya masih lebih menguasai pikiranku, maka aku ulangi lagi ucapanku tadi, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap mengulangi ucapan beliau tadi. Lantas beliau bersabda, ‘Wahai Sa’ad, sesungguhnya bisa jadi aku memberikan kepada seseorang sedangkan orang yang lain lebih aku cintai darinya karena aku khawatir Allah akan melemparkannya ke dalam neraka.’.” (HR. Bukhari)
Dinding pemisah antara Ahlus Sunah dengan Wa’idiyah
Ibnu Hajar rahimahullah (wafat tahun 852 H) mengatakan, “Salaf mengatakan bahwa iman itu mencakup keyakinan dengan hati, pengucapan dengan lisan, dan amal dengan anggota badan. Yang mereka maksud dengan itu adalah bahwa amal merupakan syarat kesempurnaannya. Dari sinilah muncul pernyataan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang…” Beliau juga mengatakan, “Perbedaan antara Mu’tazilah dengan Salaf adalah mereka -yaitu Mu’tazilah- menjadikan amal sebagai syarat sahnya iman. Adapun salaf menjadikannya sebagai syarat penyempurna baginya…” (Fath al-Bari [1/60])
Namun, apa yang beliau sampaikan di atas perlu untuk diluruskan. Syaikh Ali bin Abdul Aziz as-Syibil mengatakan, “Yang benar ialah bahwa amal menurut Salaf Sholeh:
  • Kadang menjadi syarat sahnya iman. Artinya ia sebagai bagian dari hakikat iman, di mana iman hilang karena hilangnya amalan tersebut seperti: sholat.
  • Kadang menjadi syarat kesempurnaannya yang wajib, maka iman berkurang dengan kehilangannya, seperti amal-amal selain sholat yang jika ditinggalkan menyebabkan kefasikan dan maksiat, tapi tidak sampai pada kekafiran.
Perincian seperti ini harus dilakukan untuk memahami perkataan Salaf Sholeh dan tidak mencampurkannya dengan perkataan wa’idiyah (Mu’tazilah dan Khawarij, pen). Dan harus diketahui bahwa amal bagi Ahlus Sunah wal Jama’ah adalah salah satu rukun dari rukun-rukun (pilar) iman yang tiga, yaitu ucapan, amal, dan i’tiqad. Dan iman menurut mereka bertambah dan berkurang, berbeda dengan Khawarij dan Mu’tazilah. Wallahu waliyyut taufiq.” (Peringatan atas Kesalahan Aqidah dalam Fathul Bari, hal. 43-44).
Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali mengatakan, “Mu’tazilah dan Khawarij mendefinisikan iman sebagai ucapan lisan, keyakinan dengan hati, dan amalan anggota badan. Namun ia tidak bertambah dan tidak berkurang.” Beliau juga menjelaskan, “Mu’tazilah dan Khawarij yang mendefinisikan iman dengan pengertian tersebut berbeda pendapat dalammenghukumi pelaku dosa besar. Mu’tazilah mengatakan bahwa pelaku dos a besar berada dalam posisi di antara dua keadaan -yaitu di antara Islam dan kekafiran- sehingga dia tidak tergolong kafir tapi juga tidak digolongkan sebagai muslim. Adapun Khawarij mengatakan mengenai pelaku dosa besar -yaitu yang meninggal dan tidak bertaubat darinya- bahwa ia kekal di neraka, halal darah, harta, dan harga dirinya ketika di dunia, dan di akhirat ia kekal di neraka. Maka ini merupakan perkataan yang mengatasnamakan Allah tanpa landasan ilmu apabila dosa besar -yang dimaksud- itu bukan tergolong syirik akbar, kufur akbar, atau nifak i’tiqadi. Mu’tazilah sepakat dengan Khawarij dalam hal hukum akhirat yaitu bahwa pelaku dosa besar meskipun ia adalah seorang muwahhid maka dia dihukum kekal di dalam neraka. Hukum yang zalim ini terbantahkan oleh dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah yang menunjukkan bahwa barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengetahui (meyakini) bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah maka dia pasti akan masuk surga, meskipun Allah tabaraka wa ta’ala memberikan siksa kepadanya sesuai dengan kadar dosa besar yang dilakukannya, hanya saja ujung perjalanannya adalah ke surga, dan sama sekali tidak ada keraguan tentang hal itu. Inilah mazhab Ahlus Sunah wal Jama’ah…” (Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul, hal. 170-171)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More