FOTO
INFO Kajian Rutin di Masjid Mujahidin Kembiritan Genteng Banyuwangi (Bakda Maghrib), Senin & Selasa (Bahasa Arab) : Ustadz Munir, Rabu (Syarhus Sunnah) : Ustadz Tanzilul Furqan, Kamis (Tafsir Ibnu Katsier) : Ustadz Arif Bachtiar, Jum'at (Tahsin) : Ustadz Arif Bachtiar, Sabtu (Bulughul Maram) : Ustadz M. Ayyub, Lc. Kontak Kami : NAJIB (082330757075)
KEGIATAN MANASIK HAJI

Kegiatan Berlangsung di Area Sekolah Oleh Guru Kelas

Media Interaktif Multimedia Komputer

Kegiatan Berlangsung di Laboratorium Komputer

Berprestasi Dalam Setiap Kompetensi

Penghargaan di Berikan di Sela Acara Kegiatan di TK Al Umm

Praktek Sholat Berjamaah di Sentra Ibadah

Kegitan Berlangsung di Aula Musholla TK Al Umm

Belajar Seni Beladiri Tapak Suci

Kegiatan Ekstrakurikuler di TK Al Umm Kembiritan

Jumat, 22 Juli 2016

ADAKAH BID'AH HASANAH ?


Permasalahan pokok dari tulisan ini…
Sebagian dari kaum muslimin masih bingung kalau dikatakan kepadanya bahwa "Setiap bid'ah sesat", diantara mereka ada yang mengatakan: "Imam Syafi'ie saja membaginya membagi dua", yang lain akan mengatakan: "Umar bin Khaththab saja mengatakan: "Ini adalah sebaik-baik bid'ah", ada lagi yang mengatakan: "Yang pentingkan niatnya", dan banyak lagi, dan banyak lagi.
Oleh sebab itulah di dalam tulisan ini akan disampaikan pendapat manakah yang paling benar, karena kebenaran itu hanya satu, tidak berbilang. Dan tulisan di bawah hanya fokus terhadap permasalahan ini, yaitu bantahan terhadap yang tidak percaya bahwa setiap bid'ah sesat, tulisan ini tidak mencakup semua yang berkenaan dengan bid'ah. jadi harap dimaklumi adanya. 
Adakah Bid'ah Hasanah?
            Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
وَŲ„ِيَّاكُŁ…ْ وَŁ…ُŲ­ْŲÆَŲ«َŲ§ŲŖِ الأُŁ…ُورِ ، فَŲ„ِنَّ كُŁ„َّ Ł…ُŲ­ْŲÆَŲ«َŲ©ٍ ŲØِŲÆْŲ¹َŲ©ٌ ، وَ كُŁ„َّ ŲØِŲÆْŲ¹َŲ©ٍ Ų¶َلاَŁ„َŲ©ٌ وَ كُŁ„َّ Ų¶َلاَŁ„َŲ©ٍ فِي النَّŲ§Ų±ِ.
Artinya: "Jauhilah perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap yang baru adalah perbuatan bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan di dalam neraka"[1].
            Jadi, tidak ada di dalam Islam bid'ah hasanah dan  bid'ah buruk, karena lafadz: كُŁ„ُّ di dalam hadits di atas menunjukkan keumuman dan keluasan, oleh karena itu setiap bid'ah di dalam agama sesat tanpa ada pengecualian dari sisi-sisinya, hadits ini senada dengan firman Allah Ta'ala:
{كُŁ„ُّ نَفْŲ³ٍ Ų°َŲ§Ų¦ِŁ‚َŲ©ُ Ų§Ł„ْŁ…َوْŲŖِ} [آل عمران: 185]
Artinya: "Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati"[2].
            Apakah mungkin ada yang akan mengatakan: "Bahwa sebagian manusia ada yang tidak akan mati?!", lebih lagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memulai pernyataan beliau dengan peringatan: "Jauhilah perkara-perkara yang baru", apakah mungkin bersamaan dengan semua ini bahwa beliau menginginkan hanya sebagian bid'ah?
            Imam Asy Syathibi rahimahullah menjelaskan tentang dalil-dalil umum pencelaan terhadap bid'ah: "Sesungguhnya dalil-dalil buruknya keumuman bid'ah, ada yang berupa mutlak  global yang sangat banyak, tidak ada pengecualian sama sekali dan tidak ada di dalamnya yang menunjukkan bahwa sebagian darinya ada petunjuk dan terdapat pula sebuah riwayat yang menyatakan: "Setiap bid'ah itu sesat kecuali ini dan itu", dan tidak ada sesuatupun yang semakna dengan ini"[3].
            Dan kita bertanya kepada orang-orang yang berpendapat adanya bid'ah hasanah, jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak menginginkan bahwa seluruh bid'ah itu sesat dengan sabda beliau:
وَŲ„ِيَّاكُŁ…ْ وَŁ…ُŲ­ْŲÆَŲ«َŲ§ŲŖِ الأُŁ…ُورِ ، فَŲ„ِنَّ كُŁ„َّ Ł…ُŲ­ْŲÆَŲ«َŲ©ٍ ŲØِŲÆْŲ¹َŲ©ٌ ، وَ كُŁ„َّ ŲØِŲÆْŲ¹َŲ©ٍ Ų¶َلاَŁ„َŲ©ٌ وَ كُŁ„َّ Ų¶َلاَŁ„َŲ©ٍ فِي النَّŲ§Ų±ِ.
            Maka ungkapan apakah yang lebih mengena dari ini untuk menunjukkan akan penolakan terhadap bid'ah-bid'ah secara menyeluruh?
           Dan saya berharap dari saudara yang berbeda pendapat dalam masalah ini, agar berhenti sejenak di sebuah ungkapan syari'at yang sangat mendalam dari seorang yang tidak berbicara dengan hawa nafsu kecuali wahyu yang diwahyukan oleh Allah kepadanya, beliau shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah melampauinya, maka jadilah seorang muslim yang selalu berhenti di firman Allah Ta'ala dan sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan janganlah pendapatnya membuat dirinya sombong yang pada akhirnya menyebabkannya berbuat dosa.
            Berkata Ibnu 'Utsaimin rahimahullah: "Sungguh anda akan merasa benar-benar heran kepada sebagian orang yang mengetahui sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:
وَŲ„ِيَّاكُŁ…ْ وَŁ…ُŲ­ْŲÆَŲ«َŲ§ŲŖِ الأُŁ…ُورِ ، فَŲ„ِنَّ كُŁ„َّ Ł…ُŲ­ْŲÆَŲ«َŲ©ٍ ŲØِŲÆْŲ¹َŲ©ٌ ، وَ كُŁ„َّ ŲØِŲÆْŲ¹َŲ©ٍ Ų¶َلاَŁ„َŲ©ٌ وَ كُŁ„َّ Ų¶َلاَŁ„َŲ©ٍ فِي النَّŲ§Ų±ِ.
Artinya: "Hendaklah kalian menjauhi perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap yang baru adalah perbuatan bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat dan setiap kesesatan di dalam neraka".
            Perlu diketahui, bahwa sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam كُŁ„ُّ ŲØِŲÆْŲ¹َŲ©ٍ adalah sebuah keumuman dan menyeluruh yang dikuatkan dengan kata yang paling kuat untuk menunjukkan keglobalan dan keumuman, yaitu: كُŁ„ُّ , yang berbicara dengan perkataan umum ini adalah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang mengetahui makna dari ucapan ini, beliau adalah makhluk yang paling fasih dan orang yang sangat memperhatikan pemberian nasehat bagi umatnya, beliau tidak mengucapkan sebuah ucapan kecuali beliau menginginkan makna dari itu. Intinya, ketika Nabi bersabda: "Setiap bid'ah sesat", beliau mengetahui makna apa yang beliau katakan, ucapan ini keluar dari mulut beliau sebagai kesempurnaan untuk memberikan nasehat kepada umatnya.
          Jika telah terkumpul secara sempurna tiga perkara di dalam sebuah ucapan; kesempurnaan keinginan memberikan nasehat, kesempurnaan penjelasan dan kefasihan serta kesempurnaan pengetahuan, maka hal tersebut menunjukkan bahwa ucapan tersebut diinginkan sesuai apa yang ditunjukkan oleh makna tersebut.
          Maka apakah setelah keumuman ini, layak bagi kita untuk membagi bid'ah menjadi dua bagian atau lima bagian? pembagian ini tidak akan benar selamanya, sedangkan apa yang disebutkan dari beberapa orang ulama tentang adanya bid'ah hasanah, maka hal ini tidak terlepas dari dua kemungkinan:
Pertama: perbuatan itu bukan bid'ah akan tetapi disangka bid'ah.
Kedua: perbuatan itu bid'ah maka ia sesat, akan tetapi tidak diketahui keburukannya"[4].
            Kita juga bisa katakan kepada yang berpendapat adanya bid'ah hasanah, pembuatan hukum adalah hak Allah Rabb semesta alam dan bukan hak manusia, jika boleh ada tambahan di dalam agama Islam, maka niscaya boleh juga pengurangan, oleh sebab itu Samurah menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
 Ų„ِŲ°َŲ§ Ų­َŲÆَّŲ«ْŲŖُكُŁ…ْ Ų­َŲÆِيثًŲ§ فَŁ„َŲ§ ŲŖَŲ²ِيدُنَّ Ų¹َŁ„َيْهِ
Artinya: "Jika aku berbicara kepada kalian sebuah hadits maka jangan pernah sekali-kali kamu menambahkannya"[5].
            Oleh sebab itulah, para generasi salafush shalih mewasiatkan dengan ucapan yang senada. Seperti; Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, salah seorang shahabat yang dikenal sangat gigih dalam memperjuangkan sunnah dan memerangi bid'ah, beliau berkata:
Ų§ŲŖَّŲØِŲ¹ُوا، وَلا ŲŖَŲØْŲŖَŲÆِŲ¹ُوا فَŁ‚َŲÆْ كُفِيتُŁ…ْ، كُŁ„ُّ ŲØِŲÆْŲ¹َŲ©ٍ Ų¶َلالَŲ©ٌ
Artinya: "Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), janganlah membuat bid’ah. Karena itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat"[6].
Begitu juga perkataan Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma, beliau juga seorang shahabat yang sangat gigih untuk mengamalkan sunnah:
 ŁƒُŁ„ُّ ŲØِŲÆْŲ¹َŲ©ٍ Ų¶َلاَŁ„َŲ©ٌ، وَŲ„ِنْ Ų±َآهَŲ§ النَّŲ§Ų³ُ Ų­َŲ³َنَŲ©ً.
Artinya: "Semua bid'ah adalah sesat, meskipun manusia melihatnya baik"[7].
Hasan Al-Bashry rahimahullah seorang tabi'ie terkenal (wafat: 110H) berkata:
Ų§ِŲ¹ْŲ±ِفُوا Ų§Ł„ْŁ…ُهَŲ§Ų¬ِŲ±ِيْنَ ŲØِفَŲ¶ْŁ„ِهِŁ…ْ، وَŲ§ŲŖَّŲØِŲ¹ُوْŲ§ Ų¢Ų«Ų§َŲ±َهُŁ…ْ، وَŲ„ِيَّاكُŁ…ْ وَŁ…َŲ§ Ų£َŲ­ْŲÆَŲ«َ النَّŲ§Ų³ُ فِي ŲÆِيْنِهِŁ…ْ، فَŲ„ِنَّ Ų“َŲ±َّ الأُŁ…ُوْŲ±ِ Ų§ْلمُŲ­ْŲÆَŲ«َŲ§ŲŖُ.
  Artinya: "Kenalilah keutamaan-keutamaan kaum Muhajirin dan ikutilah jejak mereka, hati-hatilah kalian dari sesuatu baru yang dibuat-buat manusia di dalam agama mereka, karena sesungguhnya sejelek-jelek perkara adalah perkara-perkara baru (di dalam agama)"[8].
Berkata Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah (wafat: 241H):
Ų£ُŲµُوْŁ„ُ السُّنَّŲ©ِ Ų¹ِنْŲÆَنَŲ§ التَّŁ…َŲ³ُّكُ ŲØِŁ…َŲ§ كَانَ Ų¹َŁ„َيْهِ Ų£َŲµْŲ­َŲ§ŲØُ Ų±َŲ³ُوْŁ„ِ الله صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… وَالاِŁ‚ْŲŖِŲÆَŲ§Ų”ُ ŲØِهِŁ…ْ وَŲŖَŲ±ْكُ Ų§Ł„ْŲØِŲÆَŲ¹ِ، وَكُŁ„ُّ ŲØِŲÆْŲ¹َŲ©ٍ فَهِيَ Ų¶َلاَŁ„َŲ©ٌ.
 Artinya: "Landasan sunnah menurut kami adalah berpegang teguh dengan apa-apa yang ada di atasnya para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan meneladani mereka, meninggalkan bid'ah-bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat"[9].
Alasan-alasan yang digunakan untuk menyatakan bahwa ada bid'ah hasanah di dalam agama Islam beserta bantahannya
 1.     Pemahaman yang keliru dari hadits:
Ł…َنْ Ų³َنَّ فِى ال؄ِŲ³ْلاَŁ…ِ Ų³ُنَّŲ©ً Ų­َŲ³َنَŲ©ً فَŁ„َهُ Ų£َŲ¬ْŲ±ُهَŲ§ وَŲ£َŲ¬ْŲ±ُ Ł…َنْ Ų¹َŁ…ِŁ„َ ŲØِهَŲ§ ŲØَŲ¹ْŲÆَهُ Ł…ِنْ ŲŗَيْŲ±ِ Ų£َنْ يَنْŁ‚ُŲµَ Ł…ِنْ Ų£ُŲ¬ُورِهِŁ…ْ Ų“َىْŲ”ٌ وَŁ…َنْ Ų³َنَّ فِى ال؄ِŲ³ْلاَŁ…ِ Ų³ُنَّŲ©ً Ų³َيِّŲ¦َŲ©ً كَانَ Ų¹َŁ„َيْهِ وِŲ²ْŲ±ُهَŲ§ وَوِŲ²ْŲ±ُ Ł…َنْ Ų¹َŁ…ِŁ„َ ŲØِهَŲ§ Ł…ِنْ ŲØَŲ¹ْŲÆِهِ Ł…ِنْ ŲŗَيْŲ±ِ Ų£َنْ يَنْŁ‚ُŲµَ Ł…ِنْ Ų£َوْŲ²َŲ§Ų±ِهِŁ…ْ Ų“َىْŲ”ٌ
Artinya: "Barangsiapa yang mencontohkan sunnah yang baik di dalam Islam maka baginya pahala dan pahala orang yang mengerjakan sunnah tersebut setelahnya tanpa mengurangi dari pahala-pahala mereka dan barangsiapa yang mencontohkan sunnah yang buruk di dalam Islam maka baginya dosa dan dosa yang mengerjakan sunnah yang buruk tersebut setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa sedikitpun pelakunya"[10].
Bantahan akan pendalilan dari hadits ini:
  • Bahwa makna Ł…َنْ Ų³َنَّadalah barangsiapa yang mencontohkan sunnah sebagai pengamalan bukan sebagai pensyari'atan, jadi maksud hadits ini adalah mengamalkan apa yang shahih dari sunnah nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dan yang menunjukkan akan hal ini adalah sebab yang karenanya keluar hadits ini yaitu tentang bershadaqah yang disyari'atkan[11].
  • Yang mengatakan: Ł…َنْ Ų³َنَّ فِى ال؄ِŲ³ْلاَŁ…ِ Ų³ُنَّŲ©ً Ų­َŲ³َنَŲ©ً beliau juga lah yang mengatakan: كُŁ„َّ ŲØِŲÆْŲ¹َŲ©ٍ Ų¶َلاَŁ„َŲ©ٌ, dan tidak akan mungkin keluar dari mulut Ash Shadiq Al Mashduq (gelar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang artinya orang yang jujur dan perkataannya dibenarkan) sebuah sabda yang mendustakan sabda beliau yang lain, dan selamanya tidak akan mungkin pernah sabda beliau bertentangan[12].
Oleh karena inilah, maka tidak boleh bagi kita mengambil sebuah hadits dan berpaling dari hadits yang lain, sesungguhnya ini adalah sikap orang yang beriman kepada sebagian kitab dan kufur terhadap yang lain.
  •  Bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:  Ł…َنْ Ų³َنَّ (barangsiapa yang mencontohkan sunnah) dan beliau tidak mengatakan من Ų§ŲØŲŖŲÆŲ¹  (barangsiapa yang membuat yang baru), dan beliau juga berkata: فِى ال؄ِŲ³ْلاَŁ…ِ (di dalam agama Islam) dan hal-hal bid'ah bukan dari Islam dan beliau juga bersabda: Ų­َŲ³َنَŲ©ً (yang baik) dan bid'ah bukan dari kebaikan[13].
  • Tidak pernah ternukilkan dari satu orang salaf ash shalihpun, bahwa ada yang menafsirkan as Sunnah al Hasanah dengan bid'ah, yang dibuat oleh manusia.
  • Bahwa makna dari Ł…َنْ Ų³َنَّ adalah barangsiapa yang menghidupkan sunnah yang tadinya ada kemudian hilang, lalu ia menghidupkannya, dan yang menunjukkan ini adalah lafazh hadits ini dari riwayat Ibnu Majah:
Ł…َنْ Ų³َنَّ Ų³ُنَّŲ©ً Ų­َŲ³َنَŲ©ً فَŲ¹ُŁ…ِŁ„َ ŲØِهَŲ§ كَانَ Ł„َهُ Ų£َŲ¬ْŲ±ُهَŲ§ وَŁ…ِŲ«ْŁ„ُ Ų£َŲ¬ْŲ±ِ Ł…َنْ Ų¹َŁ…ِŁ„َ ŲØِهَŲ§ لاَ يَنْŁ‚ُŲµُ Ł…ِنْ Ų£ُŲ¬ُورِهِŁ…ْ Ų“َيْŲ¦ًŲ§ وَŁ…َنْ Ų³َنَّ Ų³ُنَّŲ©ً Ų³َيِّŲ¦َŲ©ً فَŲ¹ُŁ…ِŁ„َ ŲØِهَŲ§ كَانَ Ų¹َŁ„َيْهِ وِŲ²ْŲ±ُهَŲ§ وَوِŲ²ْŲ±ُ Ł…َنْ Ų¹َŁ…ِŁ„َ ŲØِهَŲ§ Ł…ِنْ ŲØَŲ¹ْŲÆِهِ لاَ يَنْŁ‚ُŲµُ Ł…ِنْ Ų£َوْŲ²َŲ§Ų±ِهِŁ…ْ Ų“َيْŲ¦ًŲ§
Artinya: "Barangsiapa yang mencontohkan sunnah yang baik lalu dikerjakan maka niscaya baginya pahalanya dan seperti pahala yang mengerjakannya tidak mengurangi dari pahala-pahala mereka sedikitpun dan barangsiapa yang memulai memberi contoh keburukan maka niscaya baginya dosanya dan mendapatkan dosa yang mengerjakannya setelahnya tidak mengurangi dari dosa-dosa mereka sedikitpun"[14].
2. Pemahaman yang salah terhadap ucapan Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu:
نِŲ¹ْŁ…َ Ų§Ł„ْŲØِŲÆْŲ¹َŲ© هَŲ°ِهِ
Artinya: "Inilah sebaik-baiknya bid'ah"[Hadits riwayat Bukhari (no. 2010)].
Jawabannya:
  • Tidak boleh sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ditanding dengan perkataan siapapun dari manusia, siapapun dia, tidak dengan perkataan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu yang merupakan orang yang paling utama di dalam umat ini setelah nabinya, tidak juga boleh ditanding dengan perkataan Umar radhiyallahu 'anhu, yang merupakan orang kedua paling utama di dalam umat ini, apalagi perkataan-perkataan selain mereka berdua[15].
            Berkata Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma:
 ŁŠُوؓكُ Ų£َنْ ŲŖَنزلَ Ų¹َŁ„ŁŠŁƒُŁ… Ų­ِŲ¬Ų§Ų±Ų© من السماِؔ ؛ Ų£َŁ‚ŁˆŁ„ُ Ł„َكُŁ… : قالَ Ų±Ų³ŁˆŁ„ُ الله- صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ¹Ł„Ł‰ آله ŁˆŲ³Ł„Ł…َّ- ŁˆŲŖŁ‚ُŁˆŁ„ŁˆŁ†َ : قالَ Ų£َبو بكر وعُŁ…Ų±
"Aku khawatir bebatuan dari langit jatuh menimpa kalian, ketika aku katakan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, tapi kalian malah mengatakan Abu Bakar dan Umar berkata seperti ini"[16].
            Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata:
 Ł„Ų§ رأي لأحد Ł…Ų¹ سنة سنها Ų±Ų³ŁˆŁ„ الله صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł…
"Aku tidak membandingkan (ucapan) seseorang dibanding dengan sebuah sunnah yang telah disunnahkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam"[17].
            Berkata Imam Syafi'ie rahimahullah:
أجمع Ų§Ł„Ł…Ų³Ł„Ł…ŁˆŁ† على أنَّ من استبان له سنَّŲ©ٌ عن Ų±Ų³ŁˆŁ„ الله صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł…؛ لم ŁŠŲ­Ł„َّ له أن ŁŠŲÆŲ¹Ł‡Ų§ Ł„Ł‚ŁˆŁ„ Ų£Ų­ŲÆٍ"
 "Kaum muslimin telah bersepakat bahwa bagi siapa yang telah jelas baginya sebuah sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena perkataan seorangpun"[18].
            Berkata Imam Ahmad rahimahullah:
 Ł…ن Ų±ŲÆ حديث Ų±Ų³ŁˆŁ„ الله - صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… - ŁŁ‡Łˆ على ؓفا Ł‡Ł„ŁƒŲ©
"Barangsiapa yang menolak hadits nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam maka ia berada di tepi jurang kehancuran"[19].
  Umar radhiyallahu 'anhu mengatakan ini ketika mengumpulkan seluruh manusia untuk shalat tarawih dan shalat tarawih bukanlah suatu yang bid'ah bahkan ia merupakan suatu sunnah yang sangat nyata, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ummul Mu'minin Aisyah radhiyallahu 'anha: "Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu malam pernah shalat di dalam masjid, lalu orang-orang mengikuti shalatnya, kemudian beliau shalat pada malam berikutnya dan manusia bertambah banyak, kemudian mereka berkumpul pada malam keempat atau ketiga, akan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam tidak keluar menemui mereka dan ketika pagi harinya beliau bersabda:
« Ł‚َŲÆْ Ų±َŲ£َيْŲŖُ Ų§Ł„َّŲ°ِى ŲµَنَŲ¹ْŲŖُŁ…ْ وَŁ„َŁ…ْ يَŁ…ْنَŲ¹ْنِى Ł…ِنَ Ų§Ł„ْŲ®ُŲ±ُوجِ Ų„ِŁ„َيْكُŁ…ْ Ų„ِلاَّ Ų£َنِّى Ų®َŲ“ِيتُ Ų£َنْ ŲŖُفْŲ±َŲ¶َ Ų¹َŁ„َيْكُŁ…ْ »
"Aku telah melihat apa yang telah kalian kerjakan dan tidak ada yang menghalangiku keluar untuk menemui kalian, kecuali aku sangat takut shalat ini akan diwajibkan atas kalian" dan ini terjadi di bulan Ramadhan[20].
            Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menegaskan tentang penyebab kenapa sampai beliau meninggalkan shalat tarawih secara berjama'ah dan ketika umar radhiyallahu 'anhu melihat bahwa penyebab tersebut sudah hilang, maka beliau mengembalikan shalat tarawih dalam keadaan berjama'ah. Jadi, yang dikerjakan oleh Umar radhiyallahu 'anhu adalah asal ibadah yang dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. 
  • Makna bid'ah di dalam perkataan umar adalah bid'ah secara bahasa yang artinya: sesuatu yang dikerjakan tidak semisal dengan sebelumnya[21].
            Berkata Asy Syathibi rahimahullah:
فَŲ„ِنْ Ł‚ِŁŠŁ„َ: فَŁ‚َŲÆْ Ų³َŁ…َّاهَŲ§ Ų¹ُŁ…َŲ±ُ Ų±َŲ¶ِيَ اللَّهُ Ų¹َنْهُ ŲØِŲÆْŲ¹َŲ©ً وَŲ­َŲ³َّنَهَŲ§ ŲØِŁ‚َوْŁ„ِهِ: نِŲ¹ْŁ…َŲŖِ Ų§Ł„ْŲØِŲÆْŲ¹َŲ©ُ هَŲ°ِهِ، وَŲ„ِŲ°َŲ§ Ų«َŲØَŲŖَŲŖْ ŲØِŲÆْŲ¹َŲ©ٌ Ł…ُŲ³ْŲŖَŲ­ْŲ³َنَŲ©ٌ فِي الَّؓŲ±ْŲ¹ِ; Ų«َŲØَŲŖَ Ł…ُŲ·ْŁ„َŁ‚ُ Ų§Ł„ِŲ§Ų³ْŲŖِŲ­ْŲ³َانِ فِي Ų§Ł„ْŲØِŲÆَŲ¹ِ.
فَŲ§Ł„ْŲ¬َوَŲ§ŲØُ: Ų„ِنَّŁ…َŲ§ Ų³َŁ…َّاهَŲ§ ŲØِŲÆْŲ¹َŲ©ً ŲØِŲ§Ų¹ْŲŖِŲØَŲ§Ų±ِ ŲøَاهِŲ±ِ Ų§Ł„ْŲ­َŲ§Ł„ِ; Ł…ِنْ Ų­َيْŲ«ُ ŲŖَŲ±َكَهَŲ§ Ų±َŲ³ُŁˆŁ„ُ اللَّهِ ŲµَŁ„َّى اللَّهُ Ų¹َŁ„َيْهِ وَŲ³َŁ„َّŁ…َ وَŲ§ŲŖَّفَŁ‚َ Ų£َنْ Ł„َŁ…ْ ŲŖَŁ‚َŲ¹ْ فِي Ų²َŁ…َانِ Ų£َŲØِي ŲØَكْŲ±ٍ Ų±َŲ¶ِيَ اللَّهُ Ų¹َنْهُ، Ł„َŲ§ Ų£َنَّهَŲ§ ŲØِŲÆْŲ¹َŲ©ٌ فِي Ų§Ł„ْŁ…َŲ¹ْنَى، فَŁ…َنْ Ų³َŁ…َّاهَŲ§ ŲØِŲÆْŲ¹َŲ©ً ŲØِهَŲ°َŲ§ Ų§Ł„ِŲ§Ų¹ْŲŖِŲØَŲ§Ų±ِ; فَŁ„َŲ§ Ł…ُŲ“َŲ§Ų­َŲ©َ فِي Ų§Ł„ْŲ£َŲ³َŲ§Ł…ِي، وَŲ¹ِنْŲÆَ Ų°َŁ„ِكَ فَŁ„َŲ§ يَŲ¬ُوزُ Ų£َنْ يُŲ³ْŲŖَŲÆَŁ„َّ ŲØِهَŲ§ Ų¹َŁ„َى Ų¬َوَŲ§Ų²ِ Ų§Ł„ِŲ§ŲØْŲŖِŲÆَŲ§Ų¹ِ ŲØِŲ§Ł„ْŁ…َŲ¹ْنَى Ų§Ł„ْŁ…ُŲŖَكَŁ„َّŁ…ِ فِŁŠŁ‡ِ; Ł„ِŲ£َنَّهُ نَوْŲ¹ٌ Ł…ِنْ ŲŖَŲ­ْŲ±ِيفِ Ų§Ł„ْكَŁ„ِŁ…ِ Ų¹َنْ Ł…َوَŲ§Ų¶ِŲ¹ِهِ:
فَŁ‚َŲÆْ Ł‚َŲ§Ł„َŲŖْ Ų¹َŲ§Ų¦ِŲ“َŲ©ُ Ų±َŲ¶ِيَ اللَّهُ ŲŖَŲ¹َŲ§Ł„َى Ų¹َنْهَŲ§: «Ų„ِنْ كَانَ Ų±َŲ³ُŁˆŁ„ُ اللَّهِ ŲµَŁ„َّى اللَّهُ Ų¹َŁ„َيْهِ وَŲ³َŁ„َّŁ…َ Ł„َيَŲÆَŲ¹ُ Ų§Ł„ْŲ¹َŁ…َŁ„َ وَهُوَ يُŲ­ِŲØُّ Ų£َنْ يَŲ¹ْŁ…َŁ„َ ŲØِهِ; Ų®َŲ“ْيَŲ©َ Ų£َنْ يَŲ¹ْŁ…َŁ„َ ŲØِهِ النَّŲ§Ų³ُ فَيُفْŲ±َŲ¶َ Ų¹َŁ„َيْهِŁ…ْ» ".
“Jika ada yang berkata: “Umar radhiyallahu ‘anhu sunnguh telah menamakannya bid’ah dan menganggapnya baik, dengan perkataannya: “Sungguh ini adalah sebaik-baiknya bid’ah”, dan jika telah tetap sebuah bidah yang dihasankan di dalam syariat maka telah tetap penganggapan baik di dalam perbuatan bid’ah.”
Maka dapat dijawab: "Beliau menamaknnya bid’ah dari ukuran keadaan secara lahir yang mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggalkannya dan bertepatan tidak terjadi di dalam masa Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, bukan bahwa hal itu sebuah bid’ah di dalam makna (yang syar’ie). Barangsiapa yang menamainya bid'ah dengan ukuran ini, maka tidak ada penarikan di dalam penamaan, maka pada saat itu tidak boleh dijadikan sebagai sebuah dalil atas kebolehan membuat sebuah bid'ah dengan makna yang dibicarakan di dalamnya, karena hal ini termasuk dari perubahan perkataan dari makna-maknanya; sungguh Aisyah radhiyallah anha berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan meninggalkan amalan padahal beliau menyukai untuk mengamalkannya, akrena takut beliau orang-orang mengerjakannya akhirnya diwajibkan atas mereka"[22].
            Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menafsirkan surat Al Baqarah ayat 117:
قال ال؄مام ابن كثير- رحمه الله- في "ŲŖŁŲ³ŁŠŲ±Ł‡" عند تفسير (سورة البقرة:117):"البدعة على Ł‚Ų³Ł…ŁŠŁ†: ŲŖŲ§Ų±Ų© ŲŖŁƒŁˆŁ† ŲØŲÆŲ¹Ų© ؓرعية؛ ŁƒŁ‚ŁˆŁ„Ł‡ - صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… -: { ŁƒŁ„ Ł…Ų­ŲÆŲ«Ų©ٍ ŲØŲÆŲ¹Ų©، ŁˆŁƒŁ„ ŲØŲÆŲ¹Ų©ٍ ضلالة } وتارة ŲŖŁƒŁˆŁ† ŲØŲÆŲ¹Ų© Ł„ŲŗŁˆŁŠŲ©؛ ŁƒŁ‚ŁˆŁ„ Ų£Ł…ŁŠŲ± Ų§Ł„Ł…Ų¤Ł…Ł†ŁŠŁ† عمر بن الخطاب عن جمعه Ų„ŁŠŲ§Ł‡Ł… على صلاة Ų§Ł„ŲŖŲ±Ų§ŁˆŁŠŲ­ ŁˆŲ§Ų³ŲŖŁ…Ų±Ų§Ų±ِهم:"نعمت البدعة هذه" .
“Bid’ah itu dua bagian,; terkadang menjadi bid’ah yang syar’I seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Setiap yang mengada-ngada adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat” dan terkadang menjadi bid’ah secara bahasa, seperti perkataan Amirul mukminin Umar bin Khaththab dalam pengumpulannya terhadap kaum muslim dalam shalat tarawih dan melanjutkannya atas mereka: “Sungguh ini adalah sebaik-baik bid’ah”.
Berkata Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah:
"ŁˆŲ£Ł…Ų§ Ł…Ų§ ŁˆŁ‚Ų¹ في ŁƒŁ„Ų§Ł… السلف من استحسان ŲØŲ¹Ų¶ البدع ف؄نما Ų°Ł„Łƒ في البدع Ų§Ł„Ł„ŲŗŁˆŁŠŲ© لا Ų§Ł„Ų“Ų±Ų¹ŁŠŲ©…" Ų«Ł… ذكر رحمه الله Ł‚ŁˆŁ„ عمر - رضي الله عنه -.
“Adapun apa yang disebukan di dalam perkataan para salaf berupa penganggapan baik sebagian bid’ah, maka sesungguhnya itu hanya di dalam bid’ah bahasa bukan syar’ie...”, kemudian setelah itu beliau menyebutkan perkataan umar radhiyallahu ‘anhu di atas. Lihat kitab Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam, hal. 233.
Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:
ŁˆŁ‚Ų§Ł„ ؓيخ ال؄سلام ابن ŲŖŁŠŁ…ŁŠŲ© في "اقتضاؔ الصراط Ų§Ł„Ł…Ų³ŲŖŁ‚ŁŠŁ…" (2/592-593):
Ų«Ł… Ł†Ł‚ŁˆŁ„: أكثر Ł…Ų§ في هذا ŲŖŲ³Ł…ŁŠŲ© عمر ŲŖŁ„Łƒ ŲØŲÆŲ¹Ų©ً، Ł…Ų¹ حسنها، ŁˆŁ‡Ų°Ł‡ ŲŖŲ³Ł…ŁŠŲ© Ł„ŲŗŁˆŁŠŲ© لا ŲŖŲ³Ł…ŁŠŲ© ؓرعية، ŁˆŲ°Ł„Łƒ أن البدعة في اللغة تعم ŁƒŁ„ Ł…Ų§ فعل Ų§ŲØŲŖŲÆŲ§Ų”ً من غير Ł…Ų«Ų§Ł„ٍ Ų³Ų§ŲØŁ‚ٍ، ŁˆŲ£Ł…Ų§ البدعة Ų§Ł„Ų“Ų±Ų¹ŁŠŲ©؛ فما لم ŁŠŲÆŁ„ Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŲÆŁ„ŁŠŁ„ ؓرعي.
ف؄ذا ŁƒŲ§Ł† نص Ų±Ų³ŁˆŁ„ الله - صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… -قد ŲÆŁ„ على Ų§Ų³ŲŖŲ­ŲØŲ§ŲØ فعلٍ، أو Ų„ŁŠŲ¬Ų§ŲØŁ‡ ŲØŲ¹ŲÆ Ł…ŁˆŲŖŁ‡، أو ŲÆŁ„ Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ مطلقاً، ŁˆŁ„Ł… ŁŠŲ¹Ł…Ł„ به ألا ŲØŲ¹ŲÆ Ł…ŁˆŲŖŁ‡، ككتاب الصدقة Ų§Ł„Ų°ŁŠ أخرجه أبوبكر - رضي الله عنه -، ف؄ذا عمل Ų°Ł„Łƒ العمل ŲØŲ¹ŲÆ Ł…ŁˆŲŖŁ‡، ŲµŲ­ أن ŁŠŲ³Ł…Ł‰ ŲØŲÆŲ¹Ų© في اللغة؛ لأنه عمل Ł…ŲØŲŖŲÆŲ£، ŁƒŁ…Ų§ أن نفس Ų§Ł„ŲÆŁŠŁ† Ų§Ł„Ų°ŁŠ Ų¬Ų§Ų” به Ų§Ł„Ł†ŲØŁŠ - صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… -ŁŠŲ³Ł…Ł‰ Ł…Ų­ŲÆŲ«Ų§ً في اللغة؛ ŁƒŁ…Ų§ قالت رسل Ł‚Ų±ŁŠŲ“ٍ Ł„Ł„Ł†Ų¬Ų§Ų“ŁŠ عن Ų£ŲµŲ­Ų§ŲØ Ų§Ł„Ł†ŲØŁŠ - صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… -Ų§Ł„Ł…Ł‡Ų§Ų¬Ų±ŁŠŁ† ؄لى الحبؓة:"؄ن هؤلاؔ خرجوا من ŲÆŁŠŁ† آبائهم ŁˆŁ„Ł… ŁŠŲÆŲ®Ł„ŁˆŲ§ في ŲÆŁŠŁ† Ų§Ł„Ł…Ł„Łƒ، وجاؤوا ŲØŲÆŁŠŁ†ٍ Ł…Ų­ŲÆŲ«ٍ لا يعرف".
Ų«Ł… Ų°Ł„Łƒ العمل Ų§Ł„Ų°ŁŠ ŲÆŁ„ Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ Ų§Ł„ŁƒŲŖŲ§ŲØ ŁˆŲ§Ł„Ų³Ł†Ų© Ł„ŁŠŲ³ ŲØŲÆŲ¹Ų©ً في Ų§Ł„Ų“Ų±ŁŠŲ¹Ų©، ŁˆŲ„Ł† Ų³Ł…ŁŠ ŲØŲÆŲ¹Ų© في اللغة.
ŁˆŁ‚ŲÆ علم أن Ł‚ŁˆŁ„ Ų§Ł„Ł†ŲØŁŠ - صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… -: { ŁƒŁ„ ŲØŲÆŲ¹Ų©ٍ ضلالة } لم يرد به ŁƒŁ„ عمل Ł…ŲØŲŖŲÆŲ£؛ ف؄ن ŲÆŁŠŁ† ال؄سلام، ŲØŁ„ ŁƒŁ„ ŲÆŁŠŁ† Ų¬Ų§Ų”ŲŖ به الرسل؛ ŁŁ‡Łˆ عمل Ł…ŲØŲŖŲÆŲ£، ŁˆŲ„Ł†Ł…Ų§ Ų£Ų±Ų§ŲÆ من الأعمال Ų§Ł„ŲŖŁŠ لم ŁŠŲ“Ų±Ų¹Ł‡Ų§ Ł‡Łˆ - صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… -).
"Yang paling banyak (dijadikan alasan) dalam permasalahan ini adalah penamaan umar radhiyallahu 'anhu bahwa hal itu adalah bid'ah padahal itu baik, dan penamaan ini adalah secara bahasa bukan penamaan secara syar'ie, hal ini karena bid'ah secara bahasa umum mencakup seluruh perbuatan yang dilakukan secara permulaan tidak ada contoh sebelumnya sedangkan bid'ah secara syar'ie adalah seluruh perbuatan yang tidak ditunjukkan atasnya satu dalil syar'i pun"
Maka jika ada penegasan Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah menunjukkan anjuran sebuah perbuatan atau pewajibannya setelah meninggalnya atau ditunjukkan atasnya secara umum dan tidak dikerjakan kecuali setelah kematiannyaseperti penulisan sedekah yang dikeluarkan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, jika dikerjakan perbuatan tersebut setelah kematiannya, maka benar dikatakan bid’ah secara bahasa karena ia adalah amalan yang dilakukan permulaan, sebagaimana agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah merupakan sesuatu yang baru secara bahasa, sebagaimana yang dikatakan oleh para utusan kaum Quraisy kepada Najasyi tentang para shahabat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang berhijrah ke daerah Habasyah: “Sesungguhnya mereka leuar dari agama nenek moyang mereka dan tidak masuk ke dalam agaram sang raja dan datang dengan agama yang baru tidak dikenal.” Kemudian amalan yang telah ditunjukkan oleh syariat bukan bidah secara syar’ie tetapi bidah secara bahasa. Dan telah diketahui bahwa sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “Setiap bid’ah sesat”, beliau tidak menginginkan setiap amalan yang permulaan, karena sesungguhnya agama Islam bahkan seluruh agama yang dibawa olh para Rasul adalah amalan yang permulaan, tetapi yang diinginkan adalah amalan yang tidak disyariatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”[23].
 3. Pemahaman yang keliru terhadap sebuah atsar:
Ł…Ų§ Ų±َŲ£َى Ų§Ł„ْŁ…ُŲ³ْŁ„ِŁ…ُŁˆŁ†َ Ų­َŲ³َناً فَهُوَ Ų¹ِنْŲÆَ اللَّهِ Ų­َŲ³َنٌ
"Perkara yang dianggap oleh kaum muslimin baik maka hal itu di sisi Allah adalah baik"[24].
Jawaban terhadap pendalilan dengan atsar ini;
  • Atsar ini adalah hanya perkataan Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu bukan hadits yang shahih dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam
Ibnu Abdil Hadi rahimahullah berkata:
"(وروي) Ł…Ų±ŁŁˆŲ¹Ų§ً عن أنس ب؄سنادٍ ساقطٍ، ŁˆŲ§Ł„Ų£ŲµŲ­ ŁˆŁ‚ŁŁ‡ على ابن Ł…Ų³Ų¹ŁˆŲÆٍ".
"Atsar ini diriwayatkan secara marfu' (tersambung sanadnya sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam) dengan sanad yang sangat lemah dan yang paling benar adalah diriwayatkan secara mauquf (hanya sampai kepada) Ibnu Mas'ud"[25].
Jamaluddin Az Zaila'i rahimahullah berkata:
"غريب Ł…Ų±ŁŁˆŲ¹Ų§، ŁˆŁ„Ł… أجده ؄لا Ł…ŁˆŁ‚ŁˆŁŲ§ على ابن Ł…Ų³Ų¹ŁˆŲÆ".
"Atsar ini gharib (asing) secara marfu' dan aku tidak mendapatkannya kecuali secara mauquf dari perkataan Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu"[26].
Ibnul Jauzi rahimahullah berkata:
"هذا Ų§Ł„Ų­ŲÆŁŠŲ« ؄نما يعرف من ŁƒŁ„Ų§Ł… ابن Ł…Ų³Ų¹ŁˆŲÆٍ".
“Hadits ini hanya dikenal dari perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu”[27].
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
"Ł„ŁŠŲ³ من ŁƒŁ„Ų§Ł… Ų±Ų³ŁˆŁ„ الله - صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… -، ŁˆŲ„Ł†Ł…Ų§ ŁŠŲ¶ŁŠŁŁ‡ ؄لى ŁƒŁ„Ų§Ł…Ł‡ من لا علم له ŲØŲ§Ł„Ų­ŲÆŁŠŲ«، ŁˆŲ„Ł†Ł…Ų§ Ł‡Łˆ Ų«Ų§ŲØŲŖ عن ابن Ł…Ų³Ų¹ŁˆŲÆٍ"
“(Ini) bukan dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan disandarkan kepada sabdanya seorang yang tidak ada pengetahuannya dengan hadits, dan ia adalah tetap dari perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.”[28]
Berkata Imam Al Albani rahimahullah:
لا أصل له Ł…Ų±ŁŁˆŲ¹Ų§ً، ŁˆŲ„Ł†Ł…Ų§ ورد Ł…ŁˆŁ‚ŁˆŁŲ§ً على ابن Ł…Ų³Ų¹ŁˆŲÆ
"Tidak ada asal riwayatnya secara marfu' akan tetapi diriwayatkan secara mauquf atas Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu"[29].
  • Bahwa makna "kaum muslimin" yang ada di dalam atsar tersebut adalah kembali kepada para shahabat nabi radhiyallahu 'anhum, sebagaimana yang ditunjukkan dari perkataan Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu:
؄ن الله نظر في Ł‚Ł„ŁˆŲØ العباد، فوجد قلب Ł…Ų­Ł…ŲÆ - صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… -خير Ł‚Ł„ŁˆŲØ العباد، فاصطفاه لنفسه، فابتعثه برسالته،Ų«Ł… نظر في Ł‚Ł„ŁˆŲØ العباد، ŲØŲ¹ŲÆ قلب Ł…Ų­Ł…ŲÆ، فوجد Ł‚Ł„ŁˆŲØ أصحابه خير Ł‚Ł„ŁˆŲØ العباد، فجعلهم وزراؔ Ł†ŲØŁŠŁ‡، ŁŠŁ‚Ų§ŲŖŁ„ŁˆŁ† على ŲÆŁŠŁ†Ł‡، فما رأى Ų§Ł„Ł…Ų³Ł„Ł…ŁˆŁ† حسناً ŁŁ‡Łˆ عند الله حسن ŁˆŁ…Ų§ رأوا سيئاً، ŁŁ‡Łˆ عند الله سيئ"
"Sesungguhnya Allah melihat kepada hati-hati para hamba-Nya, maka Allah mendapati hati Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah sebaik-baik hati para hamba, lalu Allah memilih beliau untuk diri-Nya dan mengutusnya dengan risalah-Nya kemudian Dia melihat kepada hati-hati para hamba setelah hati Muhammad, maka Allah mendapati hati-hati para shahabatnya adalah sebaik-baik hati para hamba-Nya, lalu Allah menjadikan mereka penolong-penolong nabi-Nya, mereka memperjuangkan agamanya, apa yang dianggap kaum muslimin baik maka hal itu di sisi Allah adalah baik dan apa yang dianggap kaum muslimin buruk maka hal itu adalah buruk di sisi Allah"[30].
Jadi Ų§Ł„ dalam kata Ų§Ł„Ł…Ų³Ł„Ł…ŁˆŁ† bukan untuk keumuman tetapi untuk perjanjian.
  • Jikalau kalimat "kaum muslimin" di dalam atsar maknanya bukan para shahabat radhiyallahu 'anhum, maka berarti maksudnya adalah ijma',
Al 'Izz bin Abdis Salam rahimahullah berkata:
"؄ن ŲµŲ­ Ų§Ł„Ų­ŲÆŁŠŲ« عن Ų±Ų³ŁˆŁ„ الله - صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… -، فالمراد ŲØŲ§Ł„Ł…Ų³Ł„Ł…ŁŠŁ† أهل ال؄جماع"
"Jika hadits ini shahih maka maksud "kaum muslimin" adalah para ahli ijma'[31].
Mari perhatikan perkataan kebanyakan ulama yang menyebutkan atsar ini sebagai dalil ijma’
Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
قال ابن كثير:"ŁˆŁ‡Ų°Ų§ الأثر ŁŁŠŁ‡ حكايةُ ؄جماعٍ عن الصحابة في ŲŖŁ‚ŲÆŁŠŁ… Ų§Ł„ŲµŲÆŁŠŁ‚، ŁˆŲ§Ł„Ų£Ł…Ų± ŁƒŁ…Ų§ قاله ابن Ł…Ų³Ų¹ŁˆŲÆٍ".
“Dan Atsar ini di dalamnya terdapat cerita tentang Ijma’nya para shahabat dalam pengedepanan Ash Shiddiq dan perkara sebagaimana yang telah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.”
Ibnu Al Qayyim rahimahullah berkata setelah menyebutkannya dengan membantah orang-orang yang berdalil dengannya:
"في هذا الأثر ŲÆŁ„ŁŠŁ„ على أن Ł…Ų§ أجمع Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ Ų§Ł„Ł…Ų³Ł„Ł…ŁˆŁ† ŁˆŲ±Ų£ŁˆŁ‡ حسناً؛ ŁŁ‡Łˆ عند الله حسن، لا Ł…Ų§ رآه بعضهم! ŁŁ‡Łˆ Ų­Ų¬Ų© Ų¹Ł„ŁŠŁƒŁ…".
“Di dalam atsar ini terdapat dalil bahwa apa yang di sepakati oleh kaum muslim dan apa yang mereka anggap itu baik, maka hal itu disisi Allah adalah baik, bukan yang dianggap sebagian dari mereka, maka ia adalah pemberat atas kalian.”[32]
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:
" الخبر ŲÆŁ„ŁŠŁ„ على أن ال؄جماع Ų­Ų¬Ų©، ŁˆŁ„Ų§ خلف ŁŁŠŁ‡".
“Riwayat ini adalah bukti bahwa ijma’ adalah hujjah pemberat dan tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya.”[33]
Asy Syathibi rahimahullah berkata:
 "؄ن ظاهره ŁŠŲÆŁ„ على أن Ł…Ų§ رآه Ų§Ł„Ł…Ų³Ł„Ł…ŁˆŁ† بجملتهم حسناً؛ ŁŁ‡Łˆ حسنٌ، ŁˆŲ§Ł„Ų£Ł…Ų© لا ŲŖŲ¬ŲŖŁ…Ų¹ على ŲØŲ§Ų·Ł„ٍ، فاجتماعهم على حسن ؓيٍؔ ŁŠŲÆŁ„ على حسنه Ų“Ų±Ų¹Ų§ً؛ لأن ال؄جماع ŁŠŲŖŲ¶Ł…Ł† ŲÆŁ„ŁŠŁ„Ų§ً ؓرعياً".
“Sesungguhnya lahirnya menunjukkan bahwa apa yang dianggap oleh kaum muslim secara menyeluruh baik, maka ia adalah baik, karena umat ini tidak berkumpul di atas kebatilan. Jadi, kesepakatan mereka atas kebaikan sesuatu menunjukkan kebaikannya secara syari’at, karena ijma’ mencakup dalil yang sayr’ie.”[34]
Ibnu Hazm berkata setelah menyebutkan perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
" فهذا Ł‡Łˆ ال؄جماع Ų§Ł„Ų°ŁŠ لا يجوز خلافه Ł„Łˆ ŲŖŁŠŁ‚Ł†، ŁˆŁ„ŁŠŲ³ Ł…Ų§ رآه ŲØŲ¹Ų¶ Ų§Ł„Ł…Ų³Ł„Ł…ŁŠŁ† Ų£ŁˆŁ„Ł‰ بالاتباع Ł…Ł…Ų§ رآه ŲŗŁŠŲ±Ł‡Ł… من Ų§Ł„Ł…Ų³Ł„Ł…ŁŠŁ†، ŁˆŁ„Łˆ ŁƒŲ§Ł† Ų°Ł„Łƒ Ł„ŁƒŁ†Ų§ Ł…Ų£Ł…ŁˆŲ±ŁŠŁ† ŲØŲ§Ł„Ų“ŁŠŲ” ŁˆŲ¶ŲÆŁ‡، ŁˆŲØŁŲ¹Ł„ ؓيؔ ŁˆŲŖŲ±ŁƒŁ‡ Ł…Ų¹Ų§ً، ŁˆŁ‡Ų°Ų§ Ł…Ų­Ų§Ł„ لا Ų³ŲØŁŠŁ„ Ų„Ł„ŁŠŁ‡"
“Maka inilah dia ijma’ yang tidak boleh diselisihi, jika telah diyakini, dan bukan apa yang dianggap baik oleh sebagian kaum muslim lebih utama untuk diikuti dari apa yang dilihat oleh selain mereka dari kaum muslim. Kalau demikian adanya, niscaya kita akan diperintahkan untuk mengerjakan sesuatu dan kebalikannya, melakukan sesuatu dan meninggalkannya secara bersamaan, dan ini mustahil, tidak ada jalan kepadanya.”[35]
Setelah disebutkan penjelasan-penjelasan para ulama di atas, maka kita tanyakan kepada mereka yang masih menyatakan adanya bid’ah hasanah dengan dalih riwayat di atas: "Apakah ada satu bid'ah yang disepakati oleh seluruh kaum muslimin akan kebaikannya?", maka jawabannya adalah tidak akan pernah ada.[36]
  • Bagaimana mungkin berdalil dengan perkataan seorang shahabat Nabi Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang adanya bid’ah hasanah, padahal beliau adalah seorang yang paling gigih melarang perbuatan bid’ah, beliaulah yang berkata:
"اتبعوا ŁˆŁ„Ų§ تبتدعوا؛ فقد ŁƒŁŁŠŲŖŁ…، ŁˆŁƒŁ„ ŲØŲÆŲ¹Ų©ٍ ضلالة" Ų±ŁˆŲ§Ł‡ Ų§Ł„ŲÆŲ§Ų±Ł…ŁŠ في سننه"
“Ikutilah dan janganlah kalian berbuat bid’ah, maka sungguh telah cukup bagi kalian, dan setiap bid’ah adalah sesat.”[37]
Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
Rabu, 17 Rabiuts TSani 1434H, Dammam KSA


[1] Hadits riwayat Abu Daud (4607), Tirmidzi (2676), Ibnu Majah (43, 42), Ahmad (4/126-127) dan dishahihkan oleh Tirmidzi dan Al Hakim di dalam Al Mustadrak (1/95) dan juga Al Albani di dalam Irwa Al Ghalil (no. 2455).
[2] QS. Ali Imran: 185.
[3] Lihat: Al 'Itisham (1/108).
[4] Lihat: Al Ibda' fi kamal Asy Syar' wa Khathar Al Ibtida', hal: 12-14.
[5] HR. Ahmad (no. 20126) dan Abu Daud (no. 4958), lihat: Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah (no. 346).
[6] Diriwayatkan oleh Ath Thabarani di dalam Al Mu'jam Al Kabir (no. 8770), Al Haitsami di dalam kitab Majma' Az Zawa-id menyatakan bahwa para perawinya adalah perawi kitab shahih.
[7] Diriwayatkan oleh Al-Laalaka-i di dalam Syarh Ushul Al I'tiqadi Ahlissunnah wal Jama'ah (1/134).
[8] Riwayat Ahmad di dalam kitab Az-Zuhd (4/124.)
[9] Lihat: Thabaqat Al Hanabilah, karya Abu Ya'laa (1/94).
[10] Imam Muslim telah menjelaskan sebab terjadinya hadits ini:
Ų¹َنِ Ų§Ł„ْŁ…ُنْŲ°ِŲ±ِ ŲØْنِ Ų¬َŲ±ِيرٍ Ų¹َنْ Ų£َŲØِŁŠŁ‡ِ Ł‚َŲ§Ł„َ كُنَّŲ§ Ų¹ِنْŲÆَ Ų±َŲ³ُŁˆŁ„ِ اللَّهِ -صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł…- فِى ŲµَŲÆْŲ±ِ النَّهَŲ§Ų±ِ Ł‚َŲ§Ł„َ فَŲ¬َŲ§Ų”َهُ Ł‚َوْŁ…ٌ Ų­ُفَŲ§Ų©ٌ Ų¹ُŲ±َŲ§Ų©ٌ Ł…ُŲ¬ْŲŖَŲ§ŲØِى النِّŁ…َŲ§Ų±ِ Ų£َوِ Ų§Ł„ْŲ¹َŲØَŲ§Ų”ِ Ł…ُŲŖَŁ‚َŁ„ِّŲÆِى السُّيُوفِ Ų¹َŲ§Ł…َّŲŖُهُŁ…ْ Ł…ِنْ Ł…ُŲ¶َŲ±َ ŲØَŁ„ْ كُŁ„ُّهُŁ…ْ Ł…ِنْ Ł…ُŲ¶َŲ±َ فَŲŖَŁ…َŲ¹َّŲ±َ وَŲ¬ْهُ Ų±َŲ³ُŁˆŁ„ِ اللَّهِ -صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł…- Ł„ِŁ…َŲ§ Ų±َŲ£َى ŲØِهِŁ…ْ Ł…ِنَ Ų§Ł„ْفَŲ§Ł‚َŲ©ِ فَŲÆَŲ®َŁ„َ Ų«ُŁ…َّ Ų®َŲ±َŲ¬َ فَŲ£َŁ…َŲ±َ ŲØِلاَلاً فَŲ£َŲ°َّنَ وَŲ£َŁ‚َŲ§Ł…َ فَŲµَŁ„َّى Ų«ُŁ…َّ Ų®َŲ·َŲØَ فَŁ‚َŲ§Ł„َ « (يَŲ§ Ų£َيُّهَŲ§ النَّŲ§Ų³ُ Ų§ŲŖَّŁ‚ُوا Ų±َŲØَّكُŁ…ُ Ų§Ł„َّŲ°ِى Ų®َŁ„َŁ‚َكُŁ…ْ Ł…ِنْ نَفْŲ³ٍ وَŲ§Ų­ِŲÆَŲ©ٍ) Ų„ِŁ„َى Ų¢Ų®ِŲ±ِ Ų§Ł„Ų¢ŁŠَŲ©ِ (Ų„ِنَّ اللَّهَ كَانَ Ų¹َŁ„َيْكُŁ…ْ Ų±َŁ‚ِيبًŲ§ ) وَŲ§Ł„Ų¢ŁŠَŲ©َ Ų§Ł„َّŲŖِى فِى Ų§Ł„ْŲ­َŲ“ْŲ±ِ (Ų§ŲŖَّŁ‚ُوا اللَّهَ وَŁ„ْŲŖَنْŲøُŲ±ْ نَفْŲ³ٌ Ł…َŲ§ Ł‚َŲÆَّŁ…َŲŖْ Ł„ِŲŗَŲÆٍ وَŲ§ŲŖَّŁ‚ُوا اللَّهَ) ŲŖَŲµَŲÆَّŁ‚َ Ų±َŲ¬ُŁ„ٌ Ł…ِنْ ŲÆِŁŠŁ†َŲ§Ų±ِهِ Ł…ِنْ ŲÆِŲ±ْهَŁ…ِهِ Ł…ِنْ Ų«َوْŲØِهِ Ł…ِنْ ŲµَŲ§Ų¹ِ ŲØُŲ±ِّهِ Ł…ِنْ ŲµَŲ§Ų¹ِ ŲŖَŁ…ْŲ±ِهِ - Ų­َŲŖَّى Ł‚َŲ§Ł„َ - وَŁ„َوْ ŲØِŲ“ِŁ‚ِّ ŲŖَŁ…ْŲ±َŲ©ٍ ». Ł‚َŲ§Ł„َ فَŲ¬َŲ§Ų”َ Ų±َŲ¬ُŁ„ٌ Ł…ِنَ الأَنْŲµَŲ§Ų±ِ ŲØِŲµُŲ±َّŲ©ٍ كَŲ§ŲÆَŲŖْ كَفُّهُ ŲŖَŲ¹ْŲ¬ِŲ²ُ Ų¹َنْهَŲ§ ŲØَŁ„ْ Ł‚َŲÆْ Ų¹َŲ¬َŲ²َŲŖْ - Ł‚َŲ§Ł„َ - Ų«ُŁ…َّ ŲŖَŲŖَŲ§ŲØَŲ¹َ النَّŲ§Ų³ُ Ų­َŲŖَّى Ų±َŲ£َيْŲŖُ كَوْŁ…َيْنِ Ł…ِنْ Ų·َŲ¹َŲ§Ł…ٍ وَŲ«ِيَŲ§ŲØٍ Ų­َŲŖَّى Ų±َŲ£َيْŲŖُ وَŲ¬ْهَ Ų±َŲ³ُŁˆŁ„ِ اللَّهِ -صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł…- يَŲŖَهَŁ„َّŁ„ُ كَŲ£َنَّهُ Ł…ُŲ°ْهَŲØَŲ©ٌ فَŁ‚َŲ§Ł„َ Ų±َŲ³ُŁˆŁ„ُ اللَّهِ -صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł…- « Ł…َنْ Ų³َنَّ فِى ال؄ِŲ³ْلاَŁ…ِ Ų³ُنَّŲ©ً Ų­َŲ³َنَŲ©ً فَŁ„َهُ Ų£َŲ¬ْŲ±ُهَŲ§ وَŲ£َŲ¬ْŲ±ُ Ł…َنْ Ų¹َŁ…ِŁ„َ ŲØِهَŲ§ ŲØَŲ¹ْŲÆَهُ Ł…ِنْ ŲŗَيْŲ±ِ Ų£َنْ يَنْŁ‚ُŲµَ Ł…ِنْ Ų£ُŲ¬ُورِهِŁ…ْ Ų“َىْŲ”ٌ وَŁ…َنْ Ų³َنَّ فِى ال؄ِŲ³ْلاَŁ…ِ Ų³ُنَّŲ©ً Ų³َيِّŲ¦َŲ©ً كَانَ Ų¹َŁ„َيْهِ وِŲ²ْŲ±ُهَŲ§ وَوِŲ²ْŲ±ُ Ł…َنْ Ų¹َŁ…ِŁ„َ ŲØِهَŲ§ Ł…ِنْ ŲØَŲ¹ْŲÆِهِ Ł…ِنْ ŲŗَيْŲ±ِ Ų£َنْ يَنْŁ‚ُŲµَ Ł…ِنْ Ų£َوْŲ²َŲ§Ų±ِهِŁ…ْ Ų“َىْŲ”ٌ ».
Artinya: "Al Mundzir bin Jarir menuturkan dari bapaknyaradhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Ketika kami bersama Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam pada awal siang, datanglah beberapa orang dalam keadaan tidak memakai alas kaki, tanpa baju, berselimutkan kain, sambil menenteng sejata, kebanyakan mereka berasal dari Mudhar, bahkan seluruh dari mereka berasal dari Mudhar, (melihat keadaan ini) wajah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerah karena melihat keadaan mereka yang miskin, kemudian beliau masuk (ke dalam rumah) lalu keluar dan memerintahkan bilal mengumandangkan adzan dan iqamah kemudian beliau mendirikan shalat, setelah beliau berkhutbah membaca ayat, artinya: "Wahai manusia, bertaqwalah kalian kepada rabb kalian yang telah menciptakan dari satu jiwa" sampai kepada akhir ayat yang artinya: "Sesungguhnya Allah Maha mengawasi kalian". Dan kemudian beliau membaca ayat yang ada di dalam surat Al Hasyr, artinya: "Bertaqwalah kepada Allah dan perhatikanlah apa yang telah diperbuat oleh diri untuk hari besok( hari kiamat), dan bertaqwalah". Kemudian beliau bersabda: "Seseorang bershadaqah dari emas dan peraknya, dari pakaiannya, dari satu sha' gandumnya dan satu sha' kurmanya", sampai beliau bersabda: "Walaupun hanya dengan setengah dari satu biji kurma", lalu datanglah seorang laki-laki dari kaum Anshar membawa satu bungkusan, hampir-hampir telapak tangannya tidak mampu membawa bungkusan itu, bahkan memang dia tidak bisa membawanya, kemudian orang-orangpun mengikutinya (membawa bantuan) sampai aku melihat dua gundukan makanan dan pakaian, sampai aku melihat wajah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersinar seakan-akan lempengan perak yang bernyala-nyala, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang mencontohkan sunnah yang baik di dalam Islam maka untuknya pahala dan pahala orang yang mengerjakan sunnah tersebut setelahnya, tanpa mengurangi dari pahala-pahala mereka, dan barangsiapa yang mencontohkan sunnah yang buruk di dalam Islam maka baginya dosa dan dosa yang mengerjakan sunnah yang buruk tersebut setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa sedikitpun pelakunya". 
[11] HR. Muslim (no. 1017), Tirmidzi (no. 2675) dan An Nasa-i (no. 2554).
[12] Lihat: Al Ibda', karya Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah, hal: 19.
[13] Lihat: Al Ibda', karya Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah, hal: 20.
[14] Hadits riwayat Ibnu Majah (207) dari Hadits Abu Juhaifahradhiyallahu 'anhu.
[15] Lihat: Keutamaan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma di dalam kitab Fadhail Ash Shahabah, karya Al 'Adawi, cet. Terbaru (hal. 31-64, 65-90).
[16] Diriwayatkan semisalnya oleh Ahmad (1/337) dan disebutkan Al Khatib di dalam kitab Al faqih wa Al Mutafaqqih (1/145), Ibnu Abdil Barr di dalam kitab Jami' Bayan Al Ilmi wa Fadhlih (2/239) dan Ibnu Hazm di dalam kitab Hajjat Al Wada' (hal. 268-269).   
[17] Lihat: I'lam Al Muwaqqi'in (2/282).
[18] Lihat: I'lam Al Muwaqqi'in (2/282).
[19] Lihat: Thabaqat Al Hanabilah (2/15) dan Al Inabah (1/260).
[20]HR. Bukhari (no. 1129) dan Muslim (no. 761).
[21] Lihat: Lisan Al Arab (1/175).
[22] Lihat: Al 'Itisham (1/250).
[23] Lihat: Iqtidha' Ash Shirath al Mustaqim (hal. 276).
[24] HR. Ahmad 1/6379/84-85 (3600), cet. Ar Risalah dan lihat Kitab Al 'Ilal, karya Ad Daruqthni 5/66-67
[25] Lihat: Kasyf Al Khafa', karya 'Ajluni (2/245).
[26] Lihat: Nashb Ar Rayah (4/133).
[27] Lihat kitab Al Wahiyat, no. 452
[28] Lihat kitab Al Furusiyyah, hal. 61
[29] Lihat: Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, 2/17 (no. 533).
[30] HR. Ahmad
[31] Fatawa Al 'Izz bin Abdis Salam (no. 9).
[32] Lihat kitab al Furusiyyah, hal. 60.
[33] Lihat kitab Raudhatu An Nazhir, hal. 86
[34] Lihat kitab Al I’tisham, 2/655.
[35] Lihat kitab AL Ihkam Fi Ushul Al Ahkam, 6/197
[36] Lihat kitab Al Luma’ Fi Ar Radi ‘Ala Muhassin Al Bida’, hal. 30-31.
[37] HR. Ad Darimi di dalam kitab Sunan beliau.

G+

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More